Senin, 19 Juli 2010

PEMIMPIN HARUS PUNYA IQ TINGGI

PEMIMPIN HARUS PUNYA IQ TINGGI

Pemimpin yang sukses rata-rata selalu memiliki IQ tinggi, seperti yang diukur Stanford-Binet, yang mengacu pada Implementation Quotient (yang memiliki ide yang bagus, harus mampu menerapkanya)
Debbie berambisi menjadi pemimpin tetapi dia pertama sekali harus memahami perkembangan professional dan keterapan hati untuk mempelajari ide-ide dari buku dan perangkat lunak ( Dunia Maya) Ia meluangkan satu hinggah dua jam setiap hari untuk belajar. Meski ia merasa nyaman dengan pendekatan pendisplinannya terhadap pendidikan, tetapi ia selalu bingung dengan jabatan yang dipimpinnya, yang selalu pembahasan arah tujuan yang tidak bias diterima oleh akal pemikiran yang sehat oleh bawahannya. Apa masalahnya? Ia tidak punya kompetensi menjadi pemimpin dan dia tidak mau menerapkannya, karena Dia menjadi pemimpin bukanlah hasil dengan perjuangan dengan ilmu yang diperolehnya dari pendidikan, tetapi dia mendapatkannya karena dari adopsi KKN, Jika begitu, adakah pemimpin yang kompeten? Jawabannya memang ada, namun pemimpin kompeten itu sulit ditemukan -- bagaikan mencari jarum dalam jerami. Dalam mencari pemimpin yang kompeten, kita harus terlebih dahulu menentukan kriteria kompetensi dan bagaimana mengukur kompetensi seorang pemimpin. Ternyata, kompetensi kepemimpinan dapat diukur dengan sejumlah kriteria, baik yang bersifat objektif, maupun yang subjektif. Kriteria yang subjektif itu adalah milik pribadi yang idenya dapat dibagikan oleh setiap individu pemimpin. Sedangkan kriteria yang objektif cenderung merupakan alat identifikasi saja.
Apabila seorang pemimpin dikatakan kompeten, maka kompetensinya terlihat dari perilaku, sikap, dan kebiasaan yang muncul dari atau merupakan ekspresi diri yang melibatkan perpaduan/pertauatan tiga unsur penting, yakni karakter, pengetahuan, serta kecakapan/keahlian/keterampilan dari pemimpin.
KOMPETENSI DARI SUDUT KARAKTER
Mengingat pentingnya kompetensi seseorang dari segi karakter (paling tidak bagi kepemimpinan Kristen), di mana karakter yang baik akan menentukan penerapan pengetahuan dan keahlian dengan baik, maka kepemimpinan Kristen harus memerhitungkan kompetensi dari segi karakter, yang hanya dapat dibaca melalui perilaku atau tindakan.
Adapun kompetensi karakter seseorang dari segi kekristenan hanya dapat diidentifikasi dengan melihat beberapa indikasi berikut.
1. Komitmen kepada Tuhan, organisasi/pemimpin dan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari adanya kesetiaan, kejujuran, kerajinan, sikap bertanggung jawab, dsb. yang dibuktikan dalam sikap hidup dan kerja sehari-hari. Perilaku nyata dari seorang pemimpin menggambarkan isi hatinya (sikap batin) serta kebiasaan hidupnya.
2. Integritas diri yang berkenaan dengan bagaimana seseorang melihat diri -- self ideal, self image, self esteem; Tuhan (khususnya sikapnya terhadap dosa/kejahatan); hubungan dengan orang lain sehingga ia diakui sebagai "bijak" dan "baik" dalam takaran sosial; sikap terhadap uang sehingga ia dianggap dapat dipercaya karena tidak berkompromi dengan "ketidakjujuran"; sikap terhadap kerja di mana ia menghargai pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Faktor-faktor tersebut hanya dapat dibuktikan dalam perilaku nyata.
3. Faktor khusus, antara lain disiplin, motivasi, semangat hidup, kerja sama, orientasi hasil/sukses, sikap positif, kreatif, inovatif, sinergetik, energetik, ketahanan, konsistensi, dsb.. Semua faktor itu dapat terlihat dari perilaku dan perbuatan seseorang.
4. Kemauan keras untuk bekerja serta kesetiaan dan ketekunan kerja yang dibuktikan dengan bekerja baik dan bekerja keras dengan sikap pasti, yaitu mencapai tujuan kerja dan menghasilkan/produktif.
KOMPETENSI DARI SUDUT PENGETAHUAN
Pengetahuan yang baik yang dimiliki seseorang akan membuat orang itu melakukan sesuatu yang baik, membuatnya dianggap lebih/ahli oleh orang lain serta mendapat kredensi sosial. Itulah mengapa pengetahuan adalah salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat menjadi pemimpin yang kompeten.
Kompetensi seorang pemimpin dari segi pengetahuan dapat diukur dari beberapa hal berikut.
5. Dapat memahami bagaimana mengembangkan dan menggunakan pikirannya dengan baik, tersistem, efektif, dan efisien, serta dapat berpikir secara kreatif-inovatif yang bersifat pragmatis dan produktif.
6. Dapat memahami dengan baik manfaat berpikir proaktif (cara berpikir yang menandakan adanya kemauan baik serta semangat untuk maju dan sukses) dan sinergetik (cara berpikir yang menandakan bahwa seseorang memerhitungkan segala faktor yang terkait dan saling memengaruhi/bekerja sama yang mendukung ke arah keberhasilan) sehingga mampu membuat keputusan dengan tepat, jelas, dan berdaya guna.
7. Memahami bagaimana berpikir lengkap, tersistem/bertahap, serta tuntas, yang memungkinkan seseorang untuk mengetahui bagaimana dapat menggunakan pikirannya untuk berpikir terencana atau strategis sehingga dapat meletakkan dasar serta merancang jurus-jurus dan kerangka kerja untuk bekerja dengan baik.
8. Memahami bagaimana berpikir cermat dan tepat yang membantu untuk membuat penaksiran/perkiraan serta keputusan yang tepat. Perpaduan antara pengetahuan yang baik dan kemampuan untuk berpikir cermat dan tepat akan membuat seseorang memunyai kemampuan lebih, yakni yang sering disebut "naluri kepemimpinan", yang memungkinkan seseorang untuk memimpin dengan baik.

Peter Schutz, mantan CEO Porsche, mengatakan “ Keputusan buruk yang diterapkan secara baik lebih baik daripada keputusan brilian yang diterapkan secara baik.”. orang yang bertindak sebagai pemimpin kurang memedulikan kesan mereka buat dibandingkan dengan pengaruh yang dipaksakan terhadap orang lain untuk mengambil keputusan tindakan yang positif. Pemimpin yang efektif tahu apa yang ia inginkan dalam setiap percakapan yang dia lakukan.
Seorang Profesor universitas ternama, dihadapan kerumunan besar mahasiswa yang masuk hari pertama mata kuliahnya, mengawali kuliah dengan mengatakan pada mereka betapa sulit mata kuliah itu dan bengitu besar kerja ekstra yang dibutuhkan., beberapa dari mahasiswa beranjak dan meninggalkan tempatnya.
Selanjutnya, ia memberi tahu para mahasiswa bahwa usaha yang diperlukan agar lulus besarnya sama dengan usaha yang diperlukan untuk memperoleh nilai A dalam sebagian besar mata kuliah lain, dan mahasiswa lain membereskan bukunya dan pergi. Ia memperingatkan yang tetap tinggal bahwa tak cukup hanya tertarik dengan mata kuliahnya, agar berhasil mahasiswa perlu bersabar menghadapi mata kuliah itu. Setelah si professor mengucapkan kata-kata itu, bebrapa mahasiswa yang ciut menambah kosong ruangan. Pada kelompok mahasiswa tersisa yang semakin kecil tersisa jumlahnya tapi jelas-jelas memiliki keteguhan hatinya, sang professor akhirnya berkata, “jangan kwatir, mata kuliah ini tak akan sesulit yang mahasiswa gambarkan, saya hanya mau memastikan bahwa saya memiliki sekelompok mahasiswa yang berkomitmen,” ketimbang “mempermanis” tugas yang harus dikerjakan mahasiswanya, pendekatan adalah menantang mahasiswanya sehinggah hanya orang-orang yang paling bertanggung jawab yang tetap tinggal, dan ini bisa menjadi perangkat yang efektif bagi siapapun yang bertindak sebagai pemimpin, dan ketika anda mengurangi apa yang dibutuhkan dari orang lain karena takut ditolak, anda cendrung mendapatkan sedikit timbal balik, mintalah komitmen besar dan anda akan semakin mendapatkan usaha yang besar sebagai hasilnya. Sebagai pemimpin dengan jabatan yang didudukinya, tugas anda adalah berlaku seperti thermostat, bukan sebagai thermometer, tunjukkan pada orang lain sikap, komitmen, dan kinerja yang sesuai dengan jabatan yang anda pimpin. Industrialis Harvey Firestone berkata” Kamu mendapatkan yang terbaik dari orang orang apabila kamu memberikan yang terbaik dari dirimu”
KOMPETENSI DARI SUDUT KECAKAPAN/KEAHLIAN/KETERAMPILAN
Faktor ini berkenaan dengan sejauh mana penerapan karakter dan pengetahuan secara praktis. Kompetensi keahlian ini dapat dilihat dari dua sudut penting berikut.
1. Yang berkenaan dengan "hubungan antar manusia", atau disebut sebagai "keterampilan atau kecakapan sosial". Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tetapi ia juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus mentekadinya, menyukainya, menghidupinya dengan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Golden rule kepemimpinan Tuhan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Mat. 7:12). Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin, mencerminkan apa saja yang akan/nanti/telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan menerima kebaikan dari tindakannya.
2. Yang berkenaan dengan "hubungan pelaksanaan tugas" di mana seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Keterampilan/keahlian/kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis, sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan "bagaimana melaksanakan tugas", yang harus dilaksanakan dengan baik. Berikut adalah beberapa prinsip yang harus diperhatikan.
a. Pemimpin harus memiliki kecakapan "know how" (memberi pengarahan) secara umum, sekalipun ia tidak perlu "maha ahli". Wawasan yang luas dan belajar dengan menggunakan segala macam cara akan membantu dalam memperoleh kecakapan ini.
b. Pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.
Hal-hal di atas itulah yang merupakan kriteria ukuran seorang pemimpin yang kompeten. Namun demikian, asumsi penting dari segi kekristenan yang perlu ditekankan ialah bahwa kompetensi seorang individu pemimpin Kristen adalah anugerah Allah (Yoh. 15:16-17), di mana semua faktor yang disinggung di atas hanya ada karena dia menemukan dirinya ada karena dan di dalam Tuhan (Ef. 2:6-10; 2Tim. 3:14-17). Di sisi lain, kompetensi adalah tanggung jawab anugerah untuk menghidupi anugerah di atas dengan seluruh aspek secara nyata dan ajeg (Ams. 3:1-15; Fil. 2:2-18; 4:8-9). Setelah itu, kompetensi tidak perlu dituntut, ia akan ada dan yang kompeten akan diakui kompeten bila dihidupi serta dibagi secara ajeg dalam upaya memimpin oleh pemimpin itu sendiri.
 Visioning
Saya menciptakan sebuah istilah untuk menggambarkan apa yang dilakukan seseorang pemimpin yang berhasil, saya menyebutnya visioning, vision adalah kata benda, visioning adalah kata kerja, yang menerangkan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan dan meraih sebuah visi. Selama bertahun-tahun, banyak organisasi keranjingan dengaan konsep pentingnya memiliki visi. Pemimpin visioner adalah seseorang yang memiliki pandangan yang luas akan masa depan dan mampu menyampaikan visi itu secara fasih untuk menginspirasi orang-orang bawahannya. Menurut saya perbedaan antara visi dengan visioning mirip dengan perbedaan antara kreativitas dan inovasi, sebagian besar orang sangat kreatif. Contoh berapa kali anda pernah melihat iklan atau ketika berbelanja menemukan produk baru yang ide tentang yang pernah anda miliki beberapa tahun sebelumnya? Mungkin anda pasti mengatakan pada diri sendiri”Hei, aku juga pernah pernah berpikir bengitu!”, dengan kata lain kita semuanya kreatif punya kemampuan untuk menelurkan ide baru.

Enam prisip kepemimpinan

1. Kemampuan menguasai diri

 Memimpin dari dalam
 Kewajiban atau Kesempatan
 Uang lawan Makna
 Jalanlah yang lebih jarang ditempuh
 Berpikirlah Positif
 Sediakan waktu untuk berpikir
 Kendalikan hidup anda
 Motivasi
 Penguasan diri
 Rangsang otak anda
 Buatlah pandangan anda
 Pilih satu masalah

2. Kekuatan fokus.

 Pentingnya focus
 Bahaya hanyut
 Hanyut lawan menunggu
 Gangguan itu membahayakan
 Menciptakan agenda
 Hidup dengan tujuan
 Memperioritaskan
3. Kekuatan bersama orang lain
4. kekuatan komunikasi persuasif
5. kekuatan pelaksanaan dan wawasan di bidangnya
6. membuat perbedaan yang positif terhadap bawahannya