PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH STUDI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS
KOMPETENSI PADA SISWA KELAS ASTRA
DI SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN
KABUPATEN DELI SERDANG
Johnson Tambun
Teknologi Pendidikan
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Auto2000 adalah jaringan jasa penjualan, perawatan, perbaikan dan penyediaan suku cadang Toyota yang manajemennya ditangani penuh oleh PT Astra International Tbk. Saat ini Auto2000 adalah main dealer Toyota terbesar di Indonesia, yang menguasai antara 70-80 % dari total penjualan Toyota. Dalam aktivitas bisnisnya, Auto2000 berhubungan dengan PT Toyota Astra Motor yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Toyota. Auto2000 adalah dealer resmi Toyota bersama 4 dealer resmi Toyota yang lain. Auto2000 berkembang pesat karena memberikan berbagai layanan yang sangat memudahkan bagi calon pembeli maupun pengguna Toyota. Dengan slogan “Urusan Toyota jadi mudah” Auto2000 selalu mencoba menjadi yang terdepan dalam pelayanan. Produk-produk Auto2000 yang inovatif seperti THS (Toyota Home Service) dan Booking Service mencerminkan perhatian Auto2000 yang tinggi kepada pelanggannya. Auto2000 berdiri pada tahun 1975 dengan nama Astra Motor Sales, dan baru pada tahun 1989 berubah nama menjadi Auto2000. Demi menjamin kualitas perbaikan Toyota selalu ditangani oleh Tekhnisi-tekhnisi Auto2000 yang profesional yang telah mengikuti training berjenjang Toyota, yaitu :
1.Toyota Technician
2.Toyota Pro-Technician, sampai dengan
3.Toyota Diagnostic Master Technician
Kesempurnaan melakukan perawatan dan perbaikan Toyota di Bengkel Auto2000 menjadi semakin lengkap karena Auto2000 juga memiliki Gudang suku cadang yang siap memenuhi kebutuhan suku cadang Toyota untuk perbaikan kendaraan Anda. Tentunya dengan hanya menyediakan TOYOTA Genuine Parts (TGP), Auto2000 akan memberikan jaminan kepuasan pelanggan akan kualitas suku cadang.Perubahan jaman yang begitu cepat dalam satu dekade belakangan ini, menghadapkan dunia pendidikan nasional kepada tantangan-tantangan yang amat berat khususnya dalam upaya menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global, dan mampu beradaptasi di era informasi. Tantangan yang dihadapi pendidikan nasional di masa depan cenderung berkembang menjadi semakin kompleks yang ditandai antara lain oleh: (1) semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) percepatan liberalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas secara global, dan (3) membanjirnya informasi.
Tingginya interaksi antar bangsa, dan menipisnya batas negara, ruang dan waktu menjadi maya, dan dunia menjadi “mengecil”. Menghadapi hal tersebut, dunia pendidikan mau tidak mau, siap tidak siap, diajak untuk menyesuaikan pada perkembangan dimaksud. Konsekuensinya, peserta didik memerlukan pengertian yang menyeluruh tentang cara (how to do it) dan alasan latar belakang (why do it) untuk masing-masing pekerjaan sesuai dengan tingkatan-tingkatannya yang siap digunakan untuk menerima dan mengelola perubahan dalam berbagai bidang.
Untuk mengantisipasi proses globalisasi ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh DepDiknas yang salah satunya adalah diberlakukannya Kurikulum 1994 dan kurikulum 1999 untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, karena kurikulum tersebut dianggap belum mewadahi wawasan dan misi paradigma baru, yaitu adanya pergeseran pandangan dan perilaku yang dapat dirangkum menjadi tiga hal, yaitu: (1) dari suply driven ke demand driven, (2) dari academic oriented ke occupational oriented, dan (3) dari school based program ke dual based program. Bahkan kurikulum edisi 1999 itupun telah direvisi, dan lahirlah kurikulum SMK edisi 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi.
Seiring dengan berlakunya Asia Free Trade Area (AFTA) dan Asia Free Labour Area (AFLA), yang mengakibatkan pelaku bisnis di asia akan bersaing secara bebas untuk meraih kesempatan dari setiap peluang yang ada, serta persaingan dalam peluang kerja semakin ketat karena setiap orang mempunyai peluang yang sama besar untuk memperoleh pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja. Upaya antisipasi hal tersebut diperlukan manusia-manusia yang siap bersaing, mandiri, kreatif dan juga inovati.
Hal ini juga untuk mengantisipasi terbatasnya ketersediaan jumlah dunia usaha dan industri atau lapangan pekerjaan yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Oleh karena itu sebagian besar lulusan SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan maupun sekolah lainnya banyak mencari pekerjaan ke luar dari kabupaten Deli Serdang agar lebih luas peluang pekerjaannya.
Selain penyediaan program tersebut, juga pihak sekolah berupaya mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang berbasis kompetensi yang dikenal dengan Competency Based Education and Training (CBE/T). Nana Syaodih Sukmadinata (2004:25) menyatakan bahwa “ Competency Based Education and Training (CBE/T), lazim diterapkan pada pendidikan kejuruan dan vokasi seperti sekolah menengah kejuruan, politeknik dan semacamnya”. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa CBE/T ini ditujukan untuk mendidik dan melatih pegawai atau calon pegawai dalam bidang kejuruan dan jenis pekerjaan tertentu, seperti bidang teknik, produksi, jasa, perdagangan, perawatan dan lain-lain. Selain itu program ini juga merupakan salah bentuk pendekatan pembelajaran yang menerapkan model dan konsep teknologi pendidikan yang mencakup dasar-dasar, konsep, prinsip-prinsip dan desain pembelajaran.
Dengan pendekatan ini diharapkan bisa memfasilitasi peserta didik (kususnya siswa Kelas ASTRA) dengan sejumlah pengalaman dan pelatihan pembelajaran yang sistematis, komprehensip, lebih kondusif, kreatif dan inovatif.
1.2. Fokus Awal Penelitian dan Paradigma Penelitian
SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan merupakan lembaga pendidikan pemerintah yang membuka program studi : Bangunan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotiv (BELMO). Saya mengangkat satu pokok permasalahan yang terdapat pada salah satu program studi tersebut. Adapun program studi yang menjadi sasaran saya adalah Mekanik Otomotiv, dimana program studi mekenik otomotiv tersebut setiap tahunnya menerima dua kelas yang mana satu kelas dari dua kelas tersebut akan menjadi kelas astra. Faktor-faktor yang menentukan siswa tersebut akan menjadi kelas astra antara lain Raport selama SMP, tinggi badan 160 cm untuk putri dan 165 cm untuk putra, tes minat bakat. Seleksi dilakukna di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan sedangkan yang melaksanakan seleksi merupakan team dari Astra Auto2000.
Adapun Faktor-faktor dalam masalah penelitian saya ini (1) Sejuahmana kemempuan siswa tamatan SMP untuk dapat mengertikan soal-soal yang diberikan penguji dari Astra Auto2000. (2) Sejauhmana kemempuan siawa tamatan SMP untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan baik ujian tulis maupun ujian lisan (wawancara). Berdasarkan beberapa faktor-faktor tersebut diatas maka saya mencoba untuk meneliti dan mengangkat permasalahan ini menjadi fokus penelitian awal.
Pokok permasalahan menunjukkan adanya beberapa hal yang perlu dikaji agar ruang lingkup penelitian ini akan menjadi lebih jelas dimana pengkajian ini akan didasarkan pada paradigma yang dapat kita lihat pada bagan dibawah ini.
Setelah ditentukan satu kelas menjadi kelas Astra munculah permasalahan yang sangat Inklusif dan Ekslusif yakni sistem pembelajaran yang dilaksanakan terhadap siswa kelas Astra., untuk itulah saya mengangkat judul dari profosal ini : “Studi Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi Pada Siswa Kelas Astra Di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”
Paradigma penelitian ini didasarkan pada dua penomena yang telah dikenal pada kalangan pendidikan dan dunia industri. Pertama Prestasi belajar merupakan aktipitas prilaku dan kemampuan intelektual yang dapat diukur melalui nilai nilai maupun norma-norma sosial. Kedua Prestasi kerja merupakan bentuk usaha untuk mencapai kepuasan kerja .
1.3.Penyesuaian Paradigma Pada Fokus Penelitian
Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini bahwa kemampuan belajar siswa kelas Astra di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan belum berjalan secara efektif. Hal ini diduga antara lain dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran dan program diklat yang kurang efektif. Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka masalah tersebut difokuskan pada masalah tentang implementasi pembelajaran berbasis kompetensi pada siswa kelas Astra terhadap movitasi belajar siswa, yang bertujuan untuk mengetahui prosedur pelaksanaan dan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi pelatihan.
1.4. Penyesuaian Paradigma dengan teori
4.1. Kegunaan Teoritis
a. Sebagai sumbangan penting dan memperluas wawasan bagi kajian pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi dalam mengelola kelas Astra sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pengembangan penelitian pengembangan kurikulum yang akan datang.
b.Sebagai sumbangan penting dalam kajian ilmu service khusunya Tune Up pada kendaraan roda empat.
c.Menambah konsep baru yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pengembangan kinerja seorang mekanik (mekanical).
4.2. Kegunaan Praktis
a.Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran bagi kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum untuk pengembangan pembelajaran dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip CBE/T. Dengan demikian kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum dapat merencanakan dan menentukan prioritas kegiatan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan keterampilan siswa.
b.Hasil penelitian ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti setiap materi dan pencapaian sasaran pelatihan
c.Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi pada pengembangan kelas Astra.
1.5.Menentukan Sumber Data
Sumber data dan teknik pengumpulan data dalam penelitian disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih, dan mengutamakan perpektif emic, artinya mementingkan pandangan informan, yakni bagaimana mereka memandang dan menafsirkan dunia dari pendiriannya. Peneliti tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan data yang diinginkan. Berdasarkan permasalahan penelitian yang diurakan di muka, maka yang dijadikan sampel sumber data dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1.Untuk mendapatkan data mengenai gambaran desain pembelajaran pada kelas Astra , sumber datanya adalah di bagian Diklat. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan studi dokumentasi, wawancara dengan personil team diklat dan pengelola program kelas Astra .
2.Untuk mendapatkan data mengenai pembelajaran berbasis kompetensi maka sumber datanya adalah job-job yang dikerjakan oleh siswa dan hasil-hasil kerja siswa. Pekerjaan apa yang sedang dikerjakan siswa dicatat dan digambarkan. Dari gambaran tersebut dapat dianalisis aktivitas dan hasil kerja siswa. Hasil analisis ini kemudian didiskusikan dengan pengelola dan instruktur kelas Astra.
3.Untuk mendapatkan data tentang keahlian yang telah dimiliki maka sumber datanya adalah aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan bongkar pasang kendaraan roda empat di bengkel. Teknik pengumpulan datanya adalah dilakukan pengamatan dan observasi terhadap siswa ke tempat-tempat siswa melakukan aktivitas praktek.
4.Untuk mendapatkan data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi program pelatihan, maka sumber datanya adalah pada saat berlangsungnya proses pendidikan/pelatihan dan para instruktur dan siswa. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dengan sumber data dan dengan observasi terhadap proses penyelenggaraan diklat.
1.6 Menentukan Tahapan Penelitian dan Audit Trail
Nasution (2003: 33) menyebutkan bahwa: "Dalam penelitian kualitatif, fase-¬fase penelitian tidak dapat ditentukan secara pasti seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Tahap-tahap dalam penelitian ini kualitatif tidak mempunyai batas-¬batas yang tegas oleh karna desain serta fokus penelitian dapat mengalami perubahan yang bersifat "emergent". Untuk itu, maka peneliti menentukan langkah-langkah penelitian sebagai berikut
A. Tahap orientasi. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang masalah yang akan diteliti. Pada tahapan ini peneliti melakukan wawancara di lapangan dengan mengajukan pertanyaan bersifat umum. Informasi yang didapat dari sejumlah responden dianalisis untuk menemukan hal-hal yang menonjol, menarik, penting dan berguna untuk diteliti selanjutnya secara mendalam. Pada tahap orientasi ini peneliti harus turun langsung kelapangan yang bertujuan untuk mencari masalah masalah yang timbul dilapangan terkait dengan apa yang diteliti sipeneliti tersebut, dari hasil temuan peneliti dilapangan bahwa siswa yang baru pertama sekali menginjak kan kakinya bengkel Astra yang dimaksud disini adalah siswa yang terpilih menjadi kelas Astra akan menemukan permasalahan-permasalahan adapun permasalahan tersebut antara lain :
1.Bagaimana kesiapan peserta didik untuk menerima pengajaran dari guru sekaligus merangkap sebagai mekanik handal padahal bagi siswa merupakan hal yang pertama sekali.
2.Bagaimana metode yang harus dilakukan instruktur Astra agar siswa cepat menangkap materi yang disampaikan.
3.Bagaimana kesiapan mental siswa kelas Astra
B. Tahap eksplorasi. Dalam tahapan ini, fokus penelitian telah menjadi lebih jelas, terarah dan spesifik. Obervasi ditujukan pada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus. Wawancara juga sudah lebih terstruktur untuk menemukan informasi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek yang menonjol dan penting yang diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara pada fase orientasi.
C. Tahap member check. Dalam tahap ini, hasih pengamatan dan wawancara disesuaikan dengan informasi dari responden bersangkutan untuk dikoreksi kesalahannya, agar hasih penelitian dapat lebih dipercaya aktivitas ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian kepada sumber-sumber data yang telah memberikan data, yaitu siswa, instruktur, bahkan pihak luar yaitu dunia usaha dan dunia industri dan tidak tertutup kemungkinan masyarakat yang penuh perhatian terhadap sekolah perlu untuk diundang.
D. Fase Pelaporan. Laporan penelitian disusun setelah selesai pengolahan dan analisis data dilakukan, karena pada dasarnya penyusunan laporan hasih penelitian yang dimaksud disini ialah menyangkut karya ilmiah ini. Dalam menganalisis data untuk disajikan dalam laporan hasil penelitian, harus ditempuh langkah-langkah, antara lain : mengumpul data, reduksi data, dan display data.
1.7.Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri, namun setelah fokus penelitian menjadi jelas mungkin akan dikembangkan instrumen penelitian sedernaha, yang diharapkan dapat digunakan untuk menjaring data pada sumber data yang lebih luas dan memperdalam serta melengkapi data hasil pengamatan dan observasi
1.8.Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan oleh Miles, dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2005:207), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification, yang divisualkan berikut:
Menurut Spadley yang dikutip oleh Sugiyono (2005:209), teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahapan penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.
1.9.Thrustworthiness
Pengujian kredibilitas data penelitian akan dilakukan dengan cara :
1.Perpanjangan Pengamatan
Penelitian ini dilakukan sampai tiga kali, mengingat pada periode I dan II, data yang diperoleh dirasa belum memadai dan belum kredibel. Belum memadai karena belum semua rumusan masalah dan fokus terjawab melalui data, belum kredibel karena sumber data masih ragu-ragu dalam memberikan data, sehingga data yang diperleh pada tahap I dan II ternyata masih belum konsisten, masih berubah-rubah. Maka dengan perpanjangan pengamatan sampai tiga kali data yang diperoleh dirasa telah jenuh.
2.Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekukan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan kontinue, karena dengan cara ini kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasati dan sistematis. Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan aktivitas ini wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.
3.Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah siswa, instruktur, pengelola kelas Astra, dan tim diklat. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan, pagi, siang dan sore hari. Dengan ketiga pendekatan triangulasi ini, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberikan data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.
4.Diskusi Teman Sejawat
Aktivitas ini dilakukan dengan mendiskusikan hasil penelitian yang masih bersifat sementara kepada teman-teman sejawat. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dan saran. Pertanyaan yang berkenan dengan data yang belum bisa terjawab, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Dengan demikian data menjadi semakin lengkap.
5.Analisis Kasus Negatif
Kasus negatif dimaksudkan adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Pada aktivitas ini peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Namun demikian terhadap beberapa kasus yang sangat ekstrim perbedaannya sehingga hal tersebut merupakan bahan bagi peneliti untuk terjun lagi ke lapangan.
1.10 Tujuan dan Manfaat Penelitian
10.1.Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif tentang Imflementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dari gambaran ini dilakukankajian teoritis sehingga didapat suatu bentuk pembelajaran yang berbasis kompetensi yang lebih efektf dan efesien. Oleh karena itu secara khuisus, tujuan penelitian ini adalah :
1.Untuk mengetahui kesiapan sekolah dalam Implementasi pembelajaran berbasis kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
2.Untuk mengetahui atau mengidentifikasi dukungan fasilitas sekolah dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di dalam dan diluar sekolah.
3.Untuk mengetahui dan mengidentifikasi apa saja yang yang menjadi fator pendukung dan faktor penghambat dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
10.2.Mamfaat Penelitian
Mamfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Seklah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan, sehingga dapat menembah Khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan kejuruan
dapun Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan diharapka dapat memberikan kontribusi terhadap :
1.Memberikan masukna bagi sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menyusun dan menyelenggarakan Pembelajaran Berbasis Kompetensi.
2.Memberikan sumbangan pikiran bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya yang melaksanakan peranannya masing-masing, agar penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dapat berjalan efektif.
3.Menjadi pendorong bagi siswa untuk terlibat secara aktif dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi sehingga memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan keterampilan dan kehidupan yang lebih baik dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang.
4.Hasil penelitian ini diharapkabn akan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Pendidikan dan Lembaga Pendidikan Teknologi Kejuruan (LPTK) yang bertujuan untuk peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Rabu, 18 Agustus 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
