PENINGKATAN MUTU DAN KEMANDIRIAN SEKOLAH
INDONESIA sudah lama terbebas dari penjajahan, setiap tahun kitapun selalu merayakan
Hari KEMERDEKAAN dengan semangat (gegap gempita). Namun perjuangan kemerdekaan sesunggunya belum selesai. Di dalam pendidikan kita harus terus berjuang untuk memajukannya, meskipun saat ini pendidikan kita masih belum selesai disejajarkan dengan pendidikan di negara maju, namun komitmen pemerintah untuk yerus menerus dilakukan.
Selain mutu pemerataan pendidikan juga masih menjadi persoalan yang harus dituntaskan. Angkatan kerja lulusan dari perguruan tinggi tiap tahun memang makin meningkat, namun belum semua terserap dalam lapangan kerja, keterbatasan lapangan pekerjaan dan membludaknya lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi masih terjadi ketimpangan, bahkan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja belum mencapai relevansi sehinggah pengangguran intelektual makin bermunculan. Banyaknya sarjana lulusan dari beberapa universitas baik negeri maupun swasta, ditambah lagi tamatan dari diploma, yang semuanya belum mampu mengaplikasikan ilmunya kedalam kehidupan nyata. Karena itulah, pemerintah Republik Indonesia tengah berjuang keras mendesain sistem pendidikan yang bisa menghasilkan lulusan dengan semangat kemandirian dan kewirausahaan yang tinggi.
Persoalan mutu SDM antara lain disebabkan minimnya dana yang dialokasikan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kendati pemerintah telah menetapkan standard minimum dana pendidikan yang sebesar 20% dari APBN dan APBD, namun kenyataan masih sangat sulit untuk mewujudkannya. Selain itu kurangnya perhatian masyarakat pada sektor pendidikan juga mempengaruhi kualitas pendidikan. Padahal masyarakat merupakan salah satu komponen yang bertanggung jawab terhadap pendidikan selain pemerintah pusat dan daerah. Penyadaran terhadap pentingnya pendidikan demi kemajuan bangsa perlu disosialisasikan dengan pendidikan yang baik dan maju dapat meningkatkan kualitas SDM, yang pada akhirnya akan menunjang sektor-sektor lain. Meski dalam skala umum mutu pendidikan indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain, namun saat bersamaan, dunia pendidikan Indonesia dikejutkan dengan keberhasilan sejumlah anak bangsa yang tampil di forum bergengsi tingkat dunia seperti olimpiade Fisika dan Olimpiade Sains lainnya yang sangat membanggakan. Mereka mampu meraih sejumlah medali emas, perak dan perunggu serta penghargaan Internasional.
Selama lima tahun terakhir ini pelajar-pelajar indonesia selalu pulang ke Tanah Air selalu dengan membawa medali, bahkan di Olimpiade Fisika Internasional tahu 2006 di singapura, presyasi anak-anak bangsa ini berada diatas negara adidaya Amesika Serikat.
Lalu, mengapa mutu pendidikan Indonesia tidak merata? Persoalan apakah selalu kurang maksimalnya program peningkatan mutu, mutu lulusan pendidikan ini juga dipengaruhi faktor manajemen dan kemandirian sekolah? Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional sebenarnya sudah menetapkan tiga pilar kebijakan pembangunan pendidikan nasional yang tercantum dalam RENSTRA dan pemetaan 2005-2009 yaitu :
1. perluasan akses Pendidikan
2. peningkatan Mutu
3. penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pendidikan.
Ketiga kebijakan tersebut kemudian diturunkan menjadi pelbagai program pendidikan yang biasa menunjang peningkatan mutu pendidikan nasional. Diantaranya hádala Ujian Nasional (UN), Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Sekolah Bertarap Internacional (SBI), dan berbagai program untuk mengacu siswa berprestasi dalam Olimpiade Sains, sebagaimana terangkum.
Kamis, 22 Juli 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
