Anda Mampu!
Pengetahuan kita tentang otak manusia dalam lima belas tahun terakhir mestinya sudah merevolusi pendidikan dan pelatihan. Akan tetapi, ternyata belum!. Oleh karena itulah, buku ini dapat memberikan sumbangan besar bagi Anda sekeluarga.Otak manusia adalah sebuah alat yang sangat canggih dan hebat—tetapi tidak disertai buku panduan penggunaaan. Rasanya seperti memiliki komputer-super, tetapi tanpa ada program lengkap untuk membuatnya bekerja secara benar.
Tiga Otak dalam Satu Kepala
Kita sebenarnya memiliki tiga otak. Setiap otak dikembangkan oleh otak lain.Di dasar tengkorak terdapat otak yang agak primitif. Otak ini membuat kita bernapas dan jantung berdegup. Ia menyuruh kita untuk melawan atau lari saat teracam bahaya. Ia juga mengendalikan sebagian naluri yang primitif, seperti rasa kepemilikan wilayah kekuasaan. Jadi, kita merasa marah atau tak nyaman jika ada orang yang memasuki wilayah kita. Bagian berikutnya adalah otak tengah atau sistim limbik, semacam otak yang juga dimiliki hewan mamalia. Otak tengah mengendalikan sistim hormon, kesehatan (sistim kekebalan), seksualitas, emosi dan merupakan bagian penting ingatan jangka panjang. Fakta bahwa emosi dan ingatan jangka panjang sama-sama dikendalikan dari otak tengah ini menjelaskan mengapa kita dapat mengingat dengan jelas sesuatu yang melibatkan emosi. Anda mungkin mengingat tempat ketika mendengar kabar wafatnya seseorang yang penting bagi Anda. Ini juga berarti bahwa kenikmatan dan kesenangan adalah unsur-unsur penting dalam pembelajaran karena melibatkan emosi positif. Kepalkan tangan Anda. Sekarang, tangkupkan tangan yang lain pada kepalan itu. Pergelangan tangan Anda mewakili otak primitif, kepalan mewakili otak tengah, tangan yang menangkupnya mewakili otak baru atau neo-korteks. Otak ketiga ini benar-benar luar biasa. Ia mewakili semua kapasitas yang akan Anda perlukan untuk belajar dan mengingat apa pun yang Anda mau. Asalkan Anda tahu caranya!
Membangun Otak Sendiri
Kapasitas otak yang mengagumkan, baru belakangan ini saja disadari. Manusia memiliki sekitar seratus miliar sel otak. Angka yang hampir mustahil dibayangkan. Ini sama dengan dua puluh kali lipat seluruh penduduk dunia. Sel otak itu mirip dengan gurita mini. Selnya terletak di tengah dan memiliki cabang-cabang berupa benang-benang kecil. Setiap kali sesuatu (misalnya gambar, suara atau sentuhan) mencapai salah satu indra, sel otak menciptakan pikiran atau kesan yang keluar dari sel otak dan menyusuri salah satu benang yang mirip cabang itu. (Benang ini disebut “dendrit”’ dari kata Yunani yang berarti cabang). Kemudian, pikiran ini menyeberang ke sel otak yang lain, melalui “cabangnya”. Proses ini berlanjut dengan melibatkan ribuan bahkan jutaan sel otak yang terhubung berurutan. Reaksi berantai yang terjadi dalam sepersekian detik ini dihantarkan oleh aktivitas listrik. Setiap kali reaksi berantai ini terjadi, koneksi baru terbentuk diantara sel-sel otak. Sebagian koneksi ini menjadi permanen jika terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya kita dapat mengingat begitu banyak hal tanpa perlu mengerahkan upaya secara sadar, misalnya mengendarai sepeda. Disinilah pentingnya. Buka jumlah sel otak yang menentukan seberapa cerdas Anda, melainkan jumlah koneksi antara sel-sel otak. Para ilmuwan ota selama sepuluh hingga lima belas tahun terakhir menyimpulkan bahwa kecerdasan tidaklah tetap. Ini karena semakin banyak kita menggunakan otak, semakin banyak pula koneksi antara sel-sel otak yang kita buat. Semakin banyak koneksi diantara sel-sel otak, semakin besar pula potensi kita untuk berpikir secara cerdas.
Jadi, kita mengembangkan otka jika menggunakannya. Andalah arsitek otak Anda sendiri. Anda dapat mengembangkan kecerdasan dengan merangsang pikiran.
Usia Lanjut Bukanlah Hambatan
Kecuali jika cedera atau pernah menderita penyakit parah, kita tidak kehilangan kapasitas otak seraya usia bertambah, asalkan terus belajar dan mencari pengalaman baru—melalui hobi, membaca, bekerja, berolahraga, seni, musik dan lain-lain.
Lebih Lanjut tentang Otak yang Berpikir
Bayangkan Anda sedang memandang dari atas ke ubun-ubun dan dapat melihat menembus tengkorak ke otak berpikir di dalamnya. Anda akan melihat puncak otak yang berpikir (atau neo-korteks) ini terdiri atas dua belahan yang berbeda. Kedua belahan ini dihubungkan dengan segumpal saraf yang kaya, yang disebut Korpus Kalosum. Sebuah penemuan menunjukkan bahwa setiap belahan otek cenderung memiliki gaya pemrosesan informasi sendiri untuk belajar. Kita tidak boleh membesar-besarkan perbedaan antara otak kiri dan kanan karena otak kita jauh lebih rumit, tak bisa dikategorikan dengan rapi. Meskipun demikian, ada kesimpulan penting dari penelitian ini. Sebagian orang lebih suka pembangunan informasi langkah demi langkah yang lambat. Orang-orang ini disebut jenis pembelajar “linier”. Sebagian orang lebih suka—malah perlu—melihat “gambaran keseluruhan” atau tinjauan awal suatu topik, supaya mereka dapat elihat arah yang disasar. (Pasti sulit mengerjakan puzzle tanpa melihat gambar utuhnya!) Orang-orang ini disebut jenis pembelajar “global”. Ketika kita mendengarkan lagu, pada dasarnya otak kiri memerhatikan liriknya sementara otak kanan memperhatikan melodinya. Selain itu, pusat emosional otak atau sistim limbik juga akan terlibat. Dengan kata lain, seluruh otak terlibat secara aktif. Sekarang, pikiran betapa mudahnya menghafal lirik lagu. Anda mungkin mengenal puluhan, bahkan ratusan lagu—dan biasanya tidak berupaya keras untuk menghafalnya. Cara yang paling sederhana untuk menjelaskan perbedaan antara berpikir “linier” dan “global” barangkali adalah dengan membayangkan bertemu dengan oang yang kita kenal. Pendekatan yang sepenuhnya “linier” adalah dengan mengamati rambut, kening, lalu alis, mata hidung, mulut dan dagu orang itu. Inilah pembangunan informasi yang berurut, langkah demi langkah, logis dan lambat. Tentu saja kita tidak begitu. Kita hanya melirik orang tersebut dan otak kanan kita langsung saja berpikir global yang berarti kita melihat polanya. Hasilnya, kita mengenali orang itu. Sebagian besar bahan pendidikan tradisional terlalu bersandar pada presentasi linier, yakni pembangunan informasi yang terperinci dan lambat. Pembelajar global akan menjadi frustasi. Mereka tak dapat melihat arah yang dituju. Jadi, mereka menjadi bosan dan tidak mendengarkan pelajaran.
Sebagian besar pengalaman belajar kita cenderung berdasarkan pada jenis pengajaran yang disukai pembelajar linier. Jadi, bagi orang yang menyukai berpikir intuitif, sekolah jarang membuat mereka mencapai potensi mereka sepenuhnya. Akan tetapi, orang yang lebih bersandar pada jenis berpikir linier juga rugi—mereka tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan lebih banyak gaya berpikir kreatif.
Perubahan dari Berpikir Linier ke Global
Apakah Anda mandek dengan hal baru yang sedang dipelajari? Tak mampu mengingatnya? Tak bisa mempertahankan minat dan konsentrasi selagi membaca? Lihatlah cara Anda mendekatinya. Dapatkah Anda menentukan. Apakah pendekatan itu linier atau global? Misalnya, jika sedang bersusah payah membaca buku ajar sambil mencatat—cobalah hal lain yang berbeda secara radikal. Cobalah menggunakan gambar visual—ambil beberapa spidol dan buatlah poster yang mewakili apa yang sedang Anda coba pelajari. Anda akan berubah dari pendekatan linier ke mode pembelajaran yang lebih menggunakan seluruh-otak.
Emosi dan Belajar
Informasi yang memasuki otak akan menuju otak tengah. Otak tengah berfungsi sebagai semacam pusat pengarah. Jika memutuskan informasi penting, ia mengalihkan informasi tersebut ke “otak berpikir”. Sekarang ingatlah bahwa otak tengah ini tak hanya sebuah “pusat pengarah”, tetapi juga bagian otak yang mengendalikan emosi. Jadi, jika informasi baru disampaikan dalam cara yang menyenangkan emosi secara positif, Anda dapat belajar dan mengingat dengan baik. Jika hal yang kita pelajari memasukkan unsur warna, ilustrasi, permainan dan iringan lagu, emosi terlibat secara positif sehingga kita belajar lebih baik. Guru seperti apa yang Anda ingat dari masa sekolah dahulu? Kemungkinan besar guru-guru yang antusias. Antusiasme itu memikat secara emosional. Namun, ketika rasa takut atau emosi negatif hadir, otak tengah mungkin meredam informasi yang datang. Jika Anda sedang stres, informasi mungkin tak akan pernah mencapai otak berpikir Anda. Informasi itu malah tersaring. Itulah yang terjadi saat otak kita tiba-tiba kosong. Otak menurunkan taraf berpikir ke yang lebih primitif. Namun, stres tidak hanya berupa kecemasan dan kekhawatiran yang Anda sadari. Seringnya, orang yang pernah memilki pengalaman belajar yang buruk secara tak sadar merasa terancam oleh pengalaman belajar yang baru. Ini menjadi lingkaran setan. Karena merasa tak mampu belajar, mereka merasa terancam. Dan karena merasa terancam, neo-korteks mereka menerima lebih sedikit informasi sehingga mereka belajar secara tidak efektif! Jika Anda merasa tak aman, potensi otak yang tersedia menjadi lebih sedikit. Oleh karena itulah, saat merasa cemas, mungkin tiba-tiba Anda menyadari bahwa telah lama menatap satu halaman tanpa memahami apa pun. Jadi, keadaan pikiran itu sangat penting dalam belajar.
Delapan Kecerdasan untuk Digunakan
Hampir semua orang memiliki kapasitas otak untuk menjadi pembelajar yang efisien. Kita sudah punya seratus miliar sel otak—jika masih ingin lebih banyak lagi, itu namanya serakah! Namun, bagaimana sebenarnya kita menggunakan otak untuk belajar? Mengapa sebagian besar dari kita hanya menggunakan sepersekian dari potensinya? Dan apa itu kecerdasan? Karya Dr. Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Universitas Harvard, menunjukkan fakta bahwa kita tidak hanya memiliki “satu” kecerdasan—tetapi setidaknya tujuh, mungkin delapan. Mungkin lebih banyak lagi. Setiap kecerdasan sama pentingnya dalam mencapai potensi kita sepenuhnya. Mari kita lihat kedelapan kecerdasan tersebut. Kita dapat mengenalinya sebagai bakat alamiah, yang dimiliki oleh setiap orang, banyak atau sedikit.
1. Kecerdasan Linguistik—atau bakat berbahasa
Kemampuan menulis atau berbicara secara fasih. Sebagian orang agaknya memang dianugerahi bakat bahasa—mereka bisa menulis dan membaca dengan baik. Mereka memiliki kecerdasan linguistik yang baik.
2. Kecerdasan Matematis/Logis—atau bakat dengan matematika, logika dan sistim
Kemampuan menangani angka dengan baik dan berpikir logis. Anda mungkin mengenal orang-orang yang mungkin tidak menganggap dirinya “cerdas”’ tetapi tajam sekali dalam menghitung peluang dalam suatu taruhan atau menghitung statistik untuk sepak bola atau basket!
Insinyur, ilmuwan dan akuntan biasanya menunjukkan kecerdasan ini.
3. Kecerdasan Visual/Spasial—atau bakat visual
Kemampuan memvisualisasi rupa-akhir sesuatu. Membayangkan sesuatu dalam mata pikiran.
Desainer, arsitek dan seniman adalah contohnya, tetapi Anda juga menggunakan saat menentukan arah, navigasi atau menggambar dengan baik.
4. Kecerdasan Musikal—atau bakat musik
Kemampuan menciptakan dan menafsirkan musik. Menjaga irama. Sebagian besar dari kita memiliki kecerdasan musikal dasar yang baik dan kita semua dapat mengembangkannya. Pikiran betapa membantunya belajar dengan menggunakan sajak atau lagak (misalnya lagu alfabet).
5. Kecrdasan Fisik
Anda menggunakan kecerdasan ini ketika mampu melakukan gerakan-gerakan yang bagus, belari, menari, membangun sesuatu. Semua seni dan hasta karya menggunakan kecerdasan ini.
Banyak orang yang berbakat secara fisik dan “terampil menggunakan tangan” tidak menyadari bahwa mereka menunjukkan bentuk kecerdasan yang tinggi. Kecerdasan yang sama nilainya dengan kecerdasan yang lain.
6. Kecerdasan Inter-Personal—atau bakat sosial
Kemampuan berkomunikasi dengan baik dan mudah bergaul. Banyak orang memiliki kemampuan hebat membuat orang lain nyaman, membaca reaksi orang dan bersimpati pada perasaan orang lain.
Ini adalah kecerdasan manusia yang penting. Bakat ini digunakan sepenuhnya ketika kita menjadi orangtua yang baik, politikus, pemimpin, kolega yang mendukung atau guru yang baik.
7. Kecerdasan Intra-Personal—atau kendali batin
Kemampuan untuk melakukan analisis diri dengan tenang dan objektif. Ini menyebabkan Anda mampu memahami perasaan dan perilaku sendiri.
Kecerdasan ini digunakan untuk menciptakan rencana dan tujuan pribadi dan untuk mempelajari kesuksesan dan kegagalan kita sebagai panduan untuk perbaikan pada masa mendatang.
8. Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenali unsur-unsur dunia alami, hidup selaras dengan alam dan menggunakannya secara produktif. Petani, para ahli di bidang botani, biologi dan lingkungan hidup menampilkan kecerdasan ini.
Daftar delapan kecerdasan atau bakat ini perlu Anda baca dan pelajari sekali lagi selama beberapa menit. Sadarilah bahwa semua bakat/kecerdasan itu bernilai sama.
Cara baru memandang kemampuan manusia ini telah menyebabkan Dr. Howard Gardner mengajukan definisi baru tentang “kecerdasan”. Menurut dia, kecerdasan adalah “kemampuan menciptakan produk bermanfaat dan menyelesaikan masalah sehari-hari”.Sebelumnya, kecerdasan didenifinisikan secara lebih sempit. Kecerdasan diukur dengan tes IQ yang berkonsentrasi ke kecerdasan linguistik dan matematis/logis. Jadi, tes ini cukup baik dalam meramalkan prestasi sekolah karena mata pelajaran di sekolah sebagian besar diajarkan melalui kecerdasan linguistik dan matematis/logis. Keberhasilan di sekolah memang salah satu cara untuk menunjukkan kecerdasan. Namun, di dunia nyata, ini sama sekali bukan satu-satunya cara. Lagi pula, jika pengajaran atau pelatihan melibatkan rentang kecerdasan yang lebih luas, kita membuka kesempatan lebih luas lagi bagi lebih banyak orang. Seperti kata Howard Gardner, “pembelajaran kecerdasan ganda = pendidikan berpeluang ganda”.
Kesimpulan
Kapasitas dasar otak manusia itu tak terbatas, bisa digunakan untuk segala maksud dan tujuan. Namun, kebanyakan orang hanya menggunakan sepersekian potensi sejatinya, setidaknya karea tiga alasan:
1. Mereka tak percaya diri
2. Mereka tidak memiliki pendekatan belajar yang tersusun baik
3. Mereka tidak mengetahui cara menggunakan gaya belajar dan rentang kecerdasan yang sesuai dengan dirinya
Pembelajar Aktif
Saat Anda membaca bagian selanjutnya, sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri tiga hal ini:
• Dapatkah saya menggunakan hal ini untuk memperbaiki cara belajar?
• Bagaimana bisa menggunakan hal ini untuk memperbaiki cara saya mengajar, melatih atau berkomunikasi dengan orang lain?
Jika orang memiliki gaya belajar yang begitu berbeda-beda, bagaimana saya bisa menyesuaikan diri dengan gaya-gaya belajar itu supaya bisa mencapai audiens seluas dan seefektif mungkin?
• Apa signifikansi hal ini bagi anak-anak dan keluarga saya? Jika Anda belum memliki anak, coba pertimbangkan untuk anak Anda nanti.
Diambil dari buku Kuasai Lebih Cepat: Buku Pintar Accelerated Learning, karangan Colin Rose (hal 18-27)
Rabu, 08 Desember 2010
Selasa, 07 Desember 2010
proposal judul tesis
STUDI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI PADA SISWA KELAS ASTRA DI SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN
KABUPATEN DELI SERDANG
Oleh
JOHNSON TAMBUN
Nim : 081188230144
1.1. Latar Belakang Masalah
Auto2000 adalah jaringan jasa penjualan, perawatan, perbaikan dan penyediaan suku cadang Toyota yang manajemennya ditangani penuh oleh PT Astra International Tbk. Saat ini Auto2000 adalah main dealer Toyota terbesar di Indonesia, yang menguasai antara 70-80 % dari total penjualan Toyota. Dalam aktivitas bisnisnya, Auto2000 berhubungan dengan PT. Toyota Astra Motor yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Toyota. Auto2000 adalah dealer resmi Toyota bersama 4 dealer resmi Toyota yang lain.
Auto2000 berkembang pesat karena memberikan berbagai layanan yang sangat memudahkan bagi calon pembeli maupun pengguna Toyota. Dengan slogan “Urusan Toyota jadi mudah” Auto2000 selalu mencoba menjadi yang terdepan dalam pelayanan. Produk-produk Auto2000 yang inovatif seperti THS (Toyota Home Service) dan Booking Service mencerminkan perhatian Auto2000 yang tinggi kepada pelanggannya. Auto2000 berdiri pada tahun 1975 dengan nama Astra Motor Sales, dan baru pada tahun 1989 berubah nama menjadi Auto2000.
Demi menjamin kualitas perbaikan Toyota selalu ditangani oleh Teknisi-teknisi Auto2000 yang profesional yang telah mengikuti training berjenjang Toyota, yaitu :
1. Toyota Technician
2. Toyota Pro-Technician, sampai dengan
3. Toyota Diagnostic Master Technician
Kesempurnaan melakukan perawatan dan perbaikan Toyota di Bengkel Auto2000 menjadi semakin lengkap karena Auto2000 juga memiliki Gudang suku cadang yang siap memenuhi kebutuhan suku cadang Toyota untuk perbaikan kendaraan Anda. Tentunya dengan hanya menyediakan TOYOTA Genuine Parts (TGP), Auto2000 akan memberikan jaminan kepuasan pelanggan akan kualitas suku cadang.
Perubahan jaman yang begitu cepat dalam satu dekade belakangan ini, menghadapkan dunia pendidikan nasional kepada tantangan-tantangan yang amat berat khususnya dalam upaya menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global, dan mampu beradaptasi di era informasi. Tantangan yang dihadapi pendidikan nasional di masa depan cenderung berkembang menjadi semakin kompleks yang ditandai antara lain oleh:
(1) semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
(2) percepatan liberalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas secara global, dan
(3) membanjirnya informasi.
Tingginya interaksi antar bangsa, dan menipisnya batas negara, ruang dan waktu menjadi maya, dan dunia menjadi “mengecil”. Menghadapi hal tersebut, dunia pendidikan mau tidak mau, siap tidak siap, diajak untuk menyesuaikan pada perkembangan dimaksud. Konsekuensinya, peserta didik memerlukan pengertian yang menyeluruh tentang cara (how to do it) dan alasan latar belakang (why do it) untuk masing-masing pekerjaan sesuai dengan tingkatan-tingkatannya yang siap digunakan untuk menerima dan mengelola perubahan dalam berbagai bidang.
Untuk mengantisipasi proses globalisasi ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh DepDiknas yang salah satunya adalah diberlakukannya Kurikulum 1994 dan kurikulum 1999 untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, karena kurikulum tersebut dianggap belum mewadahi wawasan dan misi paradigma baru, yaitu adanya pergeseran pandangan dan perilaku yang dapat dirangkum menjadi tiga hal, yaitu:
(1) dari suply driven ke demand driven,
(2) dari academic oriented ke occupational oriented, dan
(3) dari school based program ke dual based program. Bahkan kurikulum edisi 1999 itupun telah direvisi, dan lahirlah kurikulum SMK edisi 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Seiring dengan berlakunya Asia Free Trade Area (AFTA) dan Asia Free Labour Area (AFLA), yang mengakibatkan pelaku bisnis di asia akan bersaing secara bebas untuk meraih kesempatan dari setiap peluang yang ada, serta persaingan dalam peluang kerja semakin ketat karena setiap orang mempunyai peluang yang sama besar untuk memperoleh pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja. Upaya antisipasi hal tersebut diperlukan manusia-manusia yang siap bersaing, mandiri, kreatif dan juga inovati.
Hal ini juga untuk mengantisipasi terbatasnya ketersediaan jumlah dunia usaha dan industri atau lapangan pekerjaan yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Oleh karena itu sebagian besar lulusan SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan maupun sekolah lainnya banyak mencari pekerjaan ke luar dari kabupaten Deli Serdang agar lebih luas peluang pekerjaannya. Selain penyediaan program tersebut, juga pihak sekolah berupaya mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang berbasis kompetensi yang dikenal dengan Competency Based Education and Training (CBE/T). Nana Syaodih Sukmadinata (2004:25) menyatakan bahwa “ Competency Based Education and Training (CBE/T), lazim diterapkan pada pendidikan kejuruan dan vokasi seperti sekolah menengah kejuruan, politeknik dan semacamnya”. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa CBE/T ini ditujukan untuk mendidik dan melatih pegawai atau calon pegawai dalam bidang kejuruan dan jenis pekerjaan tertentu, seperti bidang teknik, produksi, jasa, perdagangan, perawatan dan lain-lain. Selain itu program ini juga merupakan salah bentuk pendekatan pembelajaran yang menerapkan model dan konsep teknologi pendidikan yang mencakup dasar-dasar, konsep, prinsip-prinsip dan desain pembelajaran.
Dengan pendekatan ini diharapkan bisa memfasilitasi peserta didik (kususnya siswa Kelas ASTRA) dengan sejumlah pengalaman dan pelatihan pembelajaran yang sistematis, komprehensip, lebih kondusif, kreatif dan inovatif.
1.2. Fokus Awal Penelitian dan Paradigma Penelitian
SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan merupakan lembaga pendidikan pemerintah yang membuka program studi : Bangunan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotiv (BELMO). Saya mengangkat satu pokok permasalahan yang terdapat pada salah satu program studi tersebut. Adapun program studi yang menjadi sasaran saya adalah Mekanik Otomotiv, dimana program studi mekenik otomotiv tersebut setiap tahunnya menerima dua kelas yang mana satu
kelas dari dua kelas tersebut akan menjadi kelas astra. Faktor-faktor yang menentukan siswa tersebut akan menjadi kelas astra antara lain Raport selama SMP, tinggi badan 160 cm untuk putri dan 165 cm untuk putra, tes minat bakat. Seleksi dilakukan di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan sedangkan yang melaksanakan seleksi merupakan team dari Astra Auto2000.
Adapun Faktor-faktor dalam masalah penelitian saya ini (1) Sejauhmana kemempuan siswa tamatan SMP untuk dapat mengertikan soal-soal yang diberikan penguji dari Astra Auto2000. (2) Sejauhmana kemampuan siawa tamatan SMP untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan baik ujian tulis maupun ujian lisan (wawancara). Berdasarkan beberapa faktor-faktor tersebut diatas maka saya mencoba untuk meneliti dan mengangkat permasalahan ini menjadi fokus penelitian awal.
Pokok permasalahan menunjukkan adanya beberapa hal yang perlu dikaji agar ruang lingkup penelitian ini akan menjadi lebih jelas dimana pengkajian ini akan didasarkan pada paradigma yang dapat kita lihat pada bagan dibawah ini.
Gambar : 1. Paradigma Penelitian
Setelah ditentukan satu kelas menjadi kelas Astra muncullah permasalahan yang sangat Inklusif dan Ekslusif yakni sistem pembelajaran yang dilaksanakan terhadap siswa kelas Astra., untuk itulah saya mengangkat judul dari profosal ini : “Studi Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi Pada Siswa Kelas Astra Di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”
Paradigma penelitian ini didasarkan pada dua penomena yang telah dikenal pada kalangan pendidikan dan dunia industri. Pertama Prestasi belajar merupakan aktipitas prilaku dan kemampuan intelektual yang dapat diukur melalui nilai nilai maupun norma-norma sosial. Kedua Prestasi kerja merupakan bentuk usaha untuk mencapai kepuasan kerja .
1.3. Penyesuaian Paradigma Pada Fokus Penelitian
Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini bahwa kemampuan belajar siswa kelas Astra di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan belum berjalan secara efektif. Hal ini diduga antara lain dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran dan program diklat yang kurang efektif. Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka masalah tersebut difokuskan pada masalah tentang implementasi pembelajaran berbasis kompetensi pada siswa kelas Astra terhadap movitasi belajar siswa, yang bertujuan untuk mengetahui prosedur pelaksanaan dan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi pelatihan pada kelas Astra tersebut.
1.4. Penyesuaian Paradigma dengan teori
4.1. Kegunaan Teoritis
a. Sebagai sumbangan penting dan memperluas wawasan bagi kajian pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi dalam mengelola kelas Astra sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pengembangan penelitian pengembangan kurikulum yang akan datang.
b. Sebagai sumbangan penting dalam kajian ilmu service khususnya Tune Up pada kendaraan roda empat.
c. Menambah konsep baru yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pengembangan kinerja seorang mekanik (mekanical).
4.2. Kegunaan Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran bagi kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum untuk pengembangan pembelajaran dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip CBE/T. Dengan demikian kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum dapat merencanakan dan menentukan prioritas kegiatan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan keterampilan siswa.
b. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti setiap materi dan pencapaian sasaran pelatihan
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi pada pengembangan kelas Astra.
1.5. Menentukan Sumber Data
Sumber data dan teknik pengumpulan data dalam penelitian disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih, dan mengutamakan perpektif emic, artinya mementingkan pandangan informan, yakni bagaimana mereka memandang dan menafsirkan dunia dari pendiriannya. Peneliti tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan data yang diinginkan. Berdasarkan permasalahan penelitian yang diurakan di muka, maka yang dijadikan sampel sumber data dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan data mengenai gambaran desain pembelajaran pada kelas Astra , sumber datanya adalah di bagian Diklat. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan studi dokumentasi, wawancara dengan personil team diklat dan pengelola program kelas Astra .
2. Untuk mendapatkan data mengenai pembelajaran berbasis kompetensi maka sumber datanya adalah job-job yang dikerjakan oleh siswa dan hasil-hasil kerja siswa. Pekerjaan apa yang sedang dikerjakan siswa dicatat dan digambarkan. Dari gambaran tersebut dapat dianalisis aktivitas dan hasil kerja siswa. Hasil analisis ini kemudian didiskusikan dengan pengelola dan instruktur kelas Astra.
3. Untuk mendapatkan data tentang keahlian yang telah dimiliki maka sumber datanya adalah aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan bongkar pasang kendaraan roda empat di bengkel. Teknik pengumpulan datanya adalah dilakukan pengamatan dan observasi terhadap siswa ke tempat-tempat siswa melakukan aktivitas praktek.
4. Untuk mendapatkan data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi program pelatihan, maka sumber datanya adalah pada saat berlangsungnya proses pendidikan/pelatihan dan para instruktur dan siswa. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dengan sumber data dan dengan observasi terhadap proses penyelenggaraan diklat.
5. landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Penelitian ini juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan pada etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.
1.6. Menentukan Tahapan Penelitian dan Audit Trail
Nasution (2003: 33) menyebutkan bahwa: "Dalam penelitian kualitatif, fase-¬fase penelitian tidak dapat ditentukan secara pasti seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Tahap-tahap dalam penelitian ini kualitatif tidak mempunyai batas-¬batas yang tegas oleh karena desain serta fokus penelitian dapat mengalami perubahan yang bersifat "emergent". Untuk itu, maka peneliti menentukan langkah-langkah penelitian sebagai berikut
A. Tahap orientasi. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang masalah yang akan diteliti. Pada tahapan ini peneliti melakukan wawancara di lapangan dengan mengajukan pertanyaan bersifat umum. Informasi yang didapat dari sejumlah responden dianalisis untuk menemukan hal-hal yang menonjol, menarik, penting dan berguna untuk diteliti selanjutnya secara mendalam. Pada tahap orientasi ini peneliti harus turun langsung kelapangan yang bertujuan untuk mencari masalah- masalah yang timbul dilapangan terkait dengan apa yang diteliti sipeneliti tersebut, dari hasil temuan peneliti dilapangan bahwa siswa yang baru pertama sekali menginjak kan kakinya bengkel Astra yang dimaksud disini adalah siswa yang terpilih menjadi kelas Astra akan menemukan permasalahan-permasalahan adapun permasalahan tersebut antara lain :
1. Bagaimana kesiapan peserta didik untuk menerima pengajaran dari guru sekaligus merangkap sebagai mekanik handal padahal bagi siswa merupakan hal yang pertama sekali.
2. Bagaimana metode yang harus dilakukan instruktur Astra agar siswa cepat menangkap materi yang disampaikan.
3. Bagaimana kesiapan mental siswa kelas Astra
B. Tahap eksplorasi. Dalam tahapan ini, fokus penelitian telah menjadi lebih jelas, terarah dan spesifik. Observasi ditujukan pada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus. Wawancara juga sudah lebih terstruktur untuk menemukan informasi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek yang menonjol dan penting yang diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara pada fase orientasi.
C. Tahap member check. Dalam tahap ini, hasil pengamatan dan wawancara disesuaikan dengan informasi dari responden bersangkutan untuk dikoreksi kesalahannya, agar hasih penelitian dapat lebih dipercaya aktivitas ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian kepada sumber-sumber data yang telah memberikan data, yaitu siswa, instruktur, bahkan pihak luar yaitu dunia usaha dan dunia industri dan tidak tertutup kemungkinan masyarakat yang penuh perhatian terhadap sekolah perlu untuk diundang.
D.Fase Pelaporan. Laporan penelitian disusun setelah selesai pengolahan dan analisis data dilakukan, karena pada dasarnya penyusunan laporan hasih penelitian yang dimaksud disini ialah menyangkut karya ilmiah ini. Dalam menganalisis data untuk disajikan dalam laporan hasil penelitian, harus ditempuh langkah-langkah, antara lain : mengumpul data, reduksi data, dan display data.
1.7. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri, namun setelah fokus penelitian menjadi jelas mungkin akan dikembangkan instrumen penelitian sedernaha, yang diharapkan dapat digunakan untuk menjaring data pada sumber data yang lebih luas dan memperdalam serta melengkapi data hasil pengamatan dan observasi
1.8. Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan oleh Miles, dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2005:207), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification, yang divisualkan berikut:
Menurut Spadley yang dikutip oleh Sugiyono (2005:209), teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahapan penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.
1.9. Thrustworthiness
Pengujian kredibilitas data penelitian akan dilakukan dengan cara :
1. Perpanjangan Pengamatan
Penelitian ini dilakukan sampai tiga kali, mengingat pada periode I dan II, data yang diperoleh dirasa belum memadai dan belum kredibel. Belum memadai karena belum semua rumusan masalah dan fokus terjawab melalui data, belum kredibel karena sumber data masih ragu-ragu dalam memberikan data, sehingga data yang diperleh pada tahap I dan II ternyata masih belum konsisten, masih berubah-rubah. Maka dengan perpanjangan pengamatan sampai tiga kali data yang diperoleh dirasa telah jenuh.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan kontinue, karena dengan cara ini kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasati dan sistematis. Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan aktivitas ini wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.
3. Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah siswa, instruktur, pengelola kelas Astra, dan tim diklat. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan, pagi, siang dan sore hari. Dengan ketiga pendekatan triangulasi ini, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberikan data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.
4. Diskusi Teman Sejawat
Aktivitas ini dilakukan dengan mendiskusikan hasil penelitian yang masih bersifat sementara kepada teman-teman sejawat. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dan saran. Pertanyaan yang berkenan dengan data yang belum bisa terjawab, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Dengan demikian data menjadi semakin lengkap.
5. Analisis Kasus Negatif
Kasus negatif dimaksudkan adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hinggah pada saat tertentu. Pada aktivitas ini peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Namun demikian terhadap beberapa kasus yang sangat ekstrim perbedaannya sehinggah hal tersebut merupakan bahan bagi peneliti untuk terjun lagi ke lapangan.
1.10. Tujuan dan Manfaat Penelitian
10.1. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif tentang Imflementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dari gambaran ini dilakukankajian teoritis sehinggah didapat suatu bentuk pembelajaran yang berbasis kompetensi yang lebih efektf dan efesien. Oleh karena itu secara khusus, tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kesiapan sekolah dalam Implementasi pembelajaran berbasis kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
2. Untuk mengetahui atau mengidentifikasi dukungan fasilitas sekolah dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di dalam dan diluar sekolah.
3. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi apa saja yang yang menjadi fator pendukung dan faktor penghambat dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
10.2. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan, sehinggah dapat menambah Khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan Adapun manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap :
1. Memberikan masukan bagi sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menyusun dan menyelenggarakan Pembelajaran Berbasis Kompetensi.
2. Memberikan sumbangan pikiran bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya yang melaksanakan peranannya masing-masing, agar penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dapat berjalan efektif.
3. Menjadi pendorong bagi siswa untuk terlibat secara aktif dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi sehingga memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan keterampilan dan kehidupan yang lebih baik dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang.
4. Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Pendidikan dan Lembaga Pendidikan Teknologi Kejuruan (LPTK) yang bertujuan untuk peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
DAFTAR PUSTAKA
Blank, W.E. (1982) Hand Book For Developing Competency-Based Training Program. New York : Prentice-Hall, Inc Englewood Cliff
Bogdan, R.C and Biklen, S.K. (1992). Qualitative Reserch For Education, An Introduction to Theory and Methods. (Second edition) Boston, London, Toronto, Sidney, Tokyo, Singapore : Allyn and Bacon
Depdiknas. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Eko Jaya.
...................... 2004. Landasan Program Pengembangan Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenjur: Depdiknas.
..................... 2004. Garis-Garis Besar Program Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenjur:
..................... 2004. Program Pelaksanaan Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenju Depdiknas.
Denzin, N.K & Lincoln, Y.S.1994. Handbook of Qualitative Research. London : Sage Publication.
Dessler, G. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Alih bahasa Benyamin Molan Jakarta : Prenallindo
Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan. (2003) Pedoman Pelaksanaan Kurikulum. Draft Dokumen Kurkulum SMK Edisi 2004. Jakarta : Tidak diterbitkan
Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan. (2004) Penilaian dan pelaporan Hasil Belajar Peserta Diklat Sekolah Menengah Kjuruan. Suplemen Bahan Sosialisasi Kurikulum SMK Edisi 2004. Jakarta : Tidak diterbitkan
Djohar, As’ari (2002) Pengembangan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah Menegah Kejuruan (Studi Pada Serkolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Teknik Mesin Perkakas). Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana UPI Baandung : Tidak diterbitkan
Gatot Hari P. 2001. Pedoman Penilaian Kurikulum SMK Edisi 1999
Greadler. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Guba, E.G & Lincoln, Y.S 1994." Competing Paradigma in Qualitative Research". In Denzin N.K. and Lincoln Y.S. (eds). (1994). Handbok of Qualitative Research (pp. 105-117). New Delhi: Sage Publications.
Hamalik, Oe, (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Komar,O (2007) Filsafat Ilmu Dan Pendidikan Bandung SPS UPI
Mc. Ashan, H.H. (1979) Competency-Based Education and Behavioral Objectives, New Jersey : Education Tecnologi apublication Inc. Englewood Cliffs
Moleong, lexy J. (2000) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, E. (2000). Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristi, dan Implementasi, Bandung : Remaja Rosda Karya.
..................... (2004) Implementasi Kurikulum 2004 : Panduan Pembelajaran KBK. Bandung Rosda Karya
Nurhadi. (2004) Kurikulum 2004 : Pertanyaan dan jawaban. Jakarta Grasindo
Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. (2002).Kurikulum Berbasis Kompetensi : Jakarta Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas
Syaodih, N.S. (2001). Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosda Karya.
....................... (2004). Kurikulum dan Pembelajaran . Bandung : Yayasan Kesuma Karya
Prof. Dr. Djam’an Satori, M.A. Dr. Aan Komariah, M.Pd, Metodologi penelitian kualitatif
Moh. Nazir, Ph.D Metode Penelitian
KABUPATEN DELI SERDANG
Oleh
JOHNSON TAMBUN
Nim : 081188230144
1.1. Latar Belakang Masalah
Auto2000 adalah jaringan jasa penjualan, perawatan, perbaikan dan penyediaan suku cadang Toyota yang manajemennya ditangani penuh oleh PT Astra International Tbk. Saat ini Auto2000 adalah main dealer Toyota terbesar di Indonesia, yang menguasai antara 70-80 % dari total penjualan Toyota. Dalam aktivitas bisnisnya, Auto2000 berhubungan dengan PT. Toyota Astra Motor yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Toyota. Auto2000 adalah dealer resmi Toyota bersama 4 dealer resmi Toyota yang lain.
Auto2000 berkembang pesat karena memberikan berbagai layanan yang sangat memudahkan bagi calon pembeli maupun pengguna Toyota. Dengan slogan “Urusan Toyota jadi mudah” Auto2000 selalu mencoba menjadi yang terdepan dalam pelayanan. Produk-produk Auto2000 yang inovatif seperti THS (Toyota Home Service) dan Booking Service mencerminkan perhatian Auto2000 yang tinggi kepada pelanggannya. Auto2000 berdiri pada tahun 1975 dengan nama Astra Motor Sales, dan baru pada tahun 1989 berubah nama menjadi Auto2000.
Demi menjamin kualitas perbaikan Toyota selalu ditangani oleh Teknisi-teknisi Auto2000 yang profesional yang telah mengikuti training berjenjang Toyota, yaitu :
1. Toyota Technician
2. Toyota Pro-Technician, sampai dengan
3. Toyota Diagnostic Master Technician
Kesempurnaan melakukan perawatan dan perbaikan Toyota di Bengkel Auto2000 menjadi semakin lengkap karena Auto2000 juga memiliki Gudang suku cadang yang siap memenuhi kebutuhan suku cadang Toyota untuk perbaikan kendaraan Anda. Tentunya dengan hanya menyediakan TOYOTA Genuine Parts (TGP), Auto2000 akan memberikan jaminan kepuasan pelanggan akan kualitas suku cadang.
Perubahan jaman yang begitu cepat dalam satu dekade belakangan ini, menghadapkan dunia pendidikan nasional kepada tantangan-tantangan yang amat berat khususnya dalam upaya menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global, dan mampu beradaptasi di era informasi. Tantangan yang dihadapi pendidikan nasional di masa depan cenderung berkembang menjadi semakin kompleks yang ditandai antara lain oleh:
(1) semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
(2) percepatan liberalisasi ekonomi dan sistem perdagangan bebas secara global, dan
(3) membanjirnya informasi.
Tingginya interaksi antar bangsa, dan menipisnya batas negara, ruang dan waktu menjadi maya, dan dunia menjadi “mengecil”. Menghadapi hal tersebut, dunia pendidikan mau tidak mau, siap tidak siap, diajak untuk menyesuaikan pada perkembangan dimaksud. Konsekuensinya, peserta didik memerlukan pengertian yang menyeluruh tentang cara (how to do it) dan alasan latar belakang (why do it) untuk masing-masing pekerjaan sesuai dengan tingkatan-tingkatannya yang siap digunakan untuk menerima dan mengelola perubahan dalam berbagai bidang.
Untuk mengantisipasi proses globalisasi ini, berbagai upaya telah dilakukan oleh DepDiknas yang salah satunya adalah diberlakukannya Kurikulum 1994 dan kurikulum 1999 untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, karena kurikulum tersebut dianggap belum mewadahi wawasan dan misi paradigma baru, yaitu adanya pergeseran pandangan dan perilaku yang dapat dirangkum menjadi tiga hal, yaitu:
(1) dari suply driven ke demand driven,
(2) dari academic oriented ke occupational oriented, dan
(3) dari school based program ke dual based program. Bahkan kurikulum edisi 1999 itupun telah direvisi, dan lahirlah kurikulum SMK edisi 2004, yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Seiring dengan berlakunya Asia Free Trade Area (AFTA) dan Asia Free Labour Area (AFLA), yang mengakibatkan pelaku bisnis di asia akan bersaing secara bebas untuk meraih kesempatan dari setiap peluang yang ada, serta persaingan dalam peluang kerja semakin ketat karena setiap orang mempunyai peluang yang sama besar untuk memperoleh pekerjaan dan menciptakan lapangan kerja. Upaya antisipasi hal tersebut diperlukan manusia-manusia yang siap bersaing, mandiri, kreatif dan juga inovati.
Hal ini juga untuk mengantisipasi terbatasnya ketersediaan jumlah dunia usaha dan industri atau lapangan pekerjaan yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Oleh karena itu sebagian besar lulusan SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan maupun sekolah lainnya banyak mencari pekerjaan ke luar dari kabupaten Deli Serdang agar lebih luas peluang pekerjaannya. Selain penyediaan program tersebut, juga pihak sekolah berupaya mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang berbasis kompetensi yang dikenal dengan Competency Based Education and Training (CBE/T). Nana Syaodih Sukmadinata (2004:25) menyatakan bahwa “ Competency Based Education and Training (CBE/T), lazim diterapkan pada pendidikan kejuruan dan vokasi seperti sekolah menengah kejuruan, politeknik dan semacamnya”. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa CBE/T ini ditujukan untuk mendidik dan melatih pegawai atau calon pegawai dalam bidang kejuruan dan jenis pekerjaan tertentu, seperti bidang teknik, produksi, jasa, perdagangan, perawatan dan lain-lain. Selain itu program ini juga merupakan salah bentuk pendekatan pembelajaran yang menerapkan model dan konsep teknologi pendidikan yang mencakup dasar-dasar, konsep, prinsip-prinsip dan desain pembelajaran.
Dengan pendekatan ini diharapkan bisa memfasilitasi peserta didik (kususnya siswa Kelas ASTRA) dengan sejumlah pengalaman dan pelatihan pembelajaran yang sistematis, komprehensip, lebih kondusif, kreatif dan inovatif.
1.2. Fokus Awal Penelitian dan Paradigma Penelitian
SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan merupakan lembaga pendidikan pemerintah yang membuka program studi : Bangunan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotiv (BELMO). Saya mengangkat satu pokok permasalahan yang terdapat pada salah satu program studi tersebut. Adapun program studi yang menjadi sasaran saya adalah Mekanik Otomotiv, dimana program studi mekenik otomotiv tersebut setiap tahunnya menerima dua kelas yang mana satu
kelas dari dua kelas tersebut akan menjadi kelas astra. Faktor-faktor yang menentukan siswa tersebut akan menjadi kelas astra antara lain Raport selama SMP, tinggi badan 160 cm untuk putri dan 165 cm untuk putra, tes minat bakat. Seleksi dilakukan di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan sedangkan yang melaksanakan seleksi merupakan team dari Astra Auto2000.
Adapun Faktor-faktor dalam masalah penelitian saya ini (1) Sejauhmana kemempuan siswa tamatan SMP untuk dapat mengertikan soal-soal yang diberikan penguji dari Astra Auto2000. (2) Sejauhmana kemampuan siawa tamatan SMP untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan baik ujian tulis maupun ujian lisan (wawancara). Berdasarkan beberapa faktor-faktor tersebut diatas maka saya mencoba untuk meneliti dan mengangkat permasalahan ini menjadi fokus penelitian awal.
Pokok permasalahan menunjukkan adanya beberapa hal yang perlu dikaji agar ruang lingkup penelitian ini akan menjadi lebih jelas dimana pengkajian ini akan didasarkan pada paradigma yang dapat kita lihat pada bagan dibawah ini.
Gambar : 1. Paradigma Penelitian
Setelah ditentukan satu kelas menjadi kelas Astra muncullah permasalahan yang sangat Inklusif dan Ekslusif yakni sistem pembelajaran yang dilaksanakan terhadap siswa kelas Astra., untuk itulah saya mengangkat judul dari profosal ini : “Studi Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi Pada Siswa Kelas Astra Di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”
Paradigma penelitian ini didasarkan pada dua penomena yang telah dikenal pada kalangan pendidikan dan dunia industri. Pertama Prestasi belajar merupakan aktipitas prilaku dan kemampuan intelektual yang dapat diukur melalui nilai nilai maupun norma-norma sosial. Kedua Prestasi kerja merupakan bentuk usaha untuk mencapai kepuasan kerja .
1.3. Penyesuaian Paradigma Pada Fokus Penelitian
Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini bahwa kemampuan belajar siswa kelas Astra di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan belum berjalan secara efektif. Hal ini diduga antara lain dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran dan program diklat yang kurang efektif. Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka masalah tersebut difokuskan pada masalah tentang implementasi pembelajaran berbasis kompetensi pada siswa kelas Astra terhadap movitasi belajar siswa, yang bertujuan untuk mengetahui prosedur pelaksanaan dan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi pelatihan pada kelas Astra tersebut.
1.4. Penyesuaian Paradigma dengan teori
4.1. Kegunaan Teoritis
a. Sebagai sumbangan penting dan memperluas wawasan bagi kajian pengembangan pembelajaran berbasis kompetensi dalam mengelola kelas Astra sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pengembangan penelitian pengembangan kurikulum yang akan datang.
b. Sebagai sumbangan penting dalam kajian ilmu service khususnya Tune Up pada kendaraan roda empat.
c. Menambah konsep baru yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pengembangan kinerja seorang mekanik (mekanical).
4.2. Kegunaan Praktis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran bagi kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum untuk pengembangan pembelajaran dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip CBE/T. Dengan demikian kepala sekolah atau wakil kepala bidang diklat/kurikulum dapat merencanakan dan menentukan prioritas kegiatan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan keterampilan siswa.
b. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti setiap materi dan pencapaian sasaran pelatihan
c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi pada pengembangan kelas Astra.
1.5. Menentukan Sumber Data
Sumber data dan teknik pengumpulan data dalam penelitian disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian. Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih, dan mengutamakan perpektif emic, artinya mementingkan pandangan informan, yakni bagaimana mereka memandang dan menafsirkan dunia dari pendiriannya. Peneliti tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan data yang diinginkan. Berdasarkan permasalahan penelitian yang diurakan di muka, maka yang dijadikan sampel sumber data dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan data mengenai gambaran desain pembelajaran pada kelas Astra , sumber datanya adalah di bagian Diklat. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan studi dokumentasi, wawancara dengan personil team diklat dan pengelola program kelas Astra .
2. Untuk mendapatkan data mengenai pembelajaran berbasis kompetensi maka sumber datanya adalah job-job yang dikerjakan oleh siswa dan hasil-hasil kerja siswa. Pekerjaan apa yang sedang dikerjakan siswa dicatat dan digambarkan. Dari gambaran tersebut dapat dianalisis aktivitas dan hasil kerja siswa. Hasil analisis ini kemudian didiskusikan dengan pengelola dan instruktur kelas Astra.
3. Untuk mendapatkan data tentang keahlian yang telah dimiliki maka sumber datanya adalah aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan bongkar pasang kendaraan roda empat di bengkel. Teknik pengumpulan datanya adalah dilakukan pengamatan dan observasi terhadap siswa ke tempat-tempat siswa melakukan aktivitas praktek.
4. Untuk mendapatkan data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi proses implementasi program pelatihan, maka sumber datanya adalah pada saat berlangsungnya proses pendidikan/pelatihan dan para instruktur dan siswa. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dengan sumber data dan dengan observasi terhadap proses penyelenggaraan diklat.
5. landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Penelitian ini juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan pada etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.
1.6. Menentukan Tahapan Penelitian dan Audit Trail
Nasution (2003: 33) menyebutkan bahwa: "Dalam penelitian kualitatif, fase-¬fase penelitian tidak dapat ditentukan secara pasti seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Tahap-tahap dalam penelitian ini kualitatif tidak mempunyai batas-¬batas yang tegas oleh karena desain serta fokus penelitian dapat mengalami perubahan yang bersifat "emergent". Untuk itu, maka peneliti menentukan langkah-langkah penelitian sebagai berikut
A. Tahap orientasi. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang masalah yang akan diteliti. Pada tahapan ini peneliti melakukan wawancara di lapangan dengan mengajukan pertanyaan bersifat umum. Informasi yang didapat dari sejumlah responden dianalisis untuk menemukan hal-hal yang menonjol, menarik, penting dan berguna untuk diteliti selanjutnya secara mendalam. Pada tahap orientasi ini peneliti harus turun langsung kelapangan yang bertujuan untuk mencari masalah- masalah yang timbul dilapangan terkait dengan apa yang diteliti sipeneliti tersebut, dari hasil temuan peneliti dilapangan bahwa siswa yang baru pertama sekali menginjak kan kakinya bengkel Astra yang dimaksud disini adalah siswa yang terpilih menjadi kelas Astra akan menemukan permasalahan-permasalahan adapun permasalahan tersebut antara lain :
1. Bagaimana kesiapan peserta didik untuk menerima pengajaran dari guru sekaligus merangkap sebagai mekanik handal padahal bagi siswa merupakan hal yang pertama sekali.
2. Bagaimana metode yang harus dilakukan instruktur Astra agar siswa cepat menangkap materi yang disampaikan.
3. Bagaimana kesiapan mental siswa kelas Astra
B. Tahap eksplorasi. Dalam tahapan ini, fokus penelitian telah menjadi lebih jelas, terarah dan spesifik. Observasi ditujukan pada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus. Wawancara juga sudah lebih terstruktur untuk menemukan informasi yang lebih mendalam mengenai aspek-aspek yang menonjol dan penting yang diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara pada fase orientasi.
C. Tahap member check. Dalam tahap ini, hasil pengamatan dan wawancara disesuaikan dengan informasi dari responden bersangkutan untuk dikoreksi kesalahannya, agar hasih penelitian dapat lebih dipercaya aktivitas ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian kepada sumber-sumber data yang telah memberikan data, yaitu siswa, instruktur, bahkan pihak luar yaitu dunia usaha dan dunia industri dan tidak tertutup kemungkinan masyarakat yang penuh perhatian terhadap sekolah perlu untuk diundang.
D.Fase Pelaporan. Laporan penelitian disusun setelah selesai pengolahan dan analisis data dilakukan, karena pada dasarnya penyusunan laporan hasih penelitian yang dimaksud disini ialah menyangkut karya ilmiah ini. Dalam menganalisis data untuk disajikan dalam laporan hasil penelitian, harus ditempuh langkah-langkah, antara lain : mengumpul data, reduksi data, dan display data.
1.7. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri, namun setelah fokus penelitian menjadi jelas mungkin akan dikembangkan instrumen penelitian sedernaha, yang diharapkan dapat digunakan untuk menjaring data pada sumber data yang lebih luas dan memperdalam serta melengkapi data hasil pengamatan dan observasi
1.8. Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan oleh Miles, dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2005:207), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification, yang divisualkan berikut:
Menurut Spadley yang dikutip oleh Sugiyono (2005:209), teknik analisis data disesuaikan dengan tahapan dalam penelitian. Pada tahapan penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, analisis data dilakukan dengan analisis domain. Pada tahap menentukan fokus analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi. Pada tahap selection, analisis data dilakukan dengan analisis komponensial. Selanjutnya untuk sampai menghasilkan judul dilakukan dengan analisis tema.
1.9. Thrustworthiness
Pengujian kredibilitas data penelitian akan dilakukan dengan cara :
1. Perpanjangan Pengamatan
Penelitian ini dilakukan sampai tiga kali, mengingat pada periode I dan II, data yang diperoleh dirasa belum memadai dan belum kredibel. Belum memadai karena belum semua rumusan masalah dan fokus terjawab melalui data, belum kredibel karena sumber data masih ragu-ragu dalam memberikan data, sehingga data yang diperleh pada tahap I dan II ternyata masih belum konsisten, masih berubah-rubah. Maka dengan perpanjangan pengamatan sampai tiga kali data yang diperoleh dirasa telah jenuh.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan kontinue, karena dengan cara ini kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasati dan sistematis. Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan aktivitas ini wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.
3. Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah siswa, instruktur, pengelola kelas Astra, dan tim diklat. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan, pagi, siang dan sore hari. Dengan ketiga pendekatan triangulasi ini, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberikan data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.
4. Diskusi Teman Sejawat
Aktivitas ini dilakukan dengan mendiskusikan hasil penelitian yang masih bersifat sementara kepada teman-teman sejawat. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dan saran. Pertanyaan yang berkenan dengan data yang belum bisa terjawab, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Dengan demikian data menjadi semakin lengkap.
5. Analisis Kasus Negatif
Kasus negatif dimaksudkan adalah kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian hinggah pada saat tertentu. Pada aktivitas ini peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Namun demikian terhadap beberapa kasus yang sangat ekstrim perbedaannya sehinggah hal tersebut merupakan bahan bagi peneliti untuk terjun lagi ke lapangan.
1.10. Tujuan dan Manfaat Penelitian
10.1. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif tentang Imflementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dari gambaran ini dilakukankajian teoritis sehinggah didapat suatu bentuk pembelajaran yang berbasis kompetensi yang lebih efektf dan efesien. Oleh karena itu secara khusus, tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kesiapan sekolah dalam Implementasi pembelajaran berbasis kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
2. Untuk mengetahui atau mengidentifikasi dukungan fasilitas sekolah dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di dalam dan diluar sekolah.
3. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi apa saja yang yang menjadi fator pendukung dan faktor penghambat dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan.
10.2. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai Pembelajaran Berbasis Kompetensi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan, sehinggah dapat menambah Khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan Adapun manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap :
1. Memberikan masukan bagi sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menyusun dan menyelenggarakan Pembelajaran Berbasis Kompetensi.
2. Memberikan sumbangan pikiran bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya yang melaksanakan peranannya masing-masing, agar penyelenggaraan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dapat berjalan efektif.
3. Menjadi pendorong bagi siswa untuk terlibat secara aktif dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi sehingga memberikan manfaat yang besar untuk meningkatkan keterampilan dan kehidupan yang lebih baik dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang.
4. Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Pendidikan dan Lembaga Pendidikan Teknologi Kejuruan (LPTK) yang bertujuan untuk peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
DAFTAR PUSTAKA
Blank, W.E. (1982) Hand Book For Developing Competency-Based Training Program. New York : Prentice-Hall, Inc Englewood Cliff
Bogdan, R.C and Biklen, S.K. (1992). Qualitative Reserch For Education, An Introduction to Theory and Methods. (Second edition) Boston, London, Toronto, Sidney, Tokyo, Singapore : Allyn and Bacon
Depdiknas. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Eko Jaya.
...................... 2004. Landasan Program Pengembangan Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenjur: Depdiknas.
..................... 2004. Garis-Garis Besar Program Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenjur:
..................... 2004. Program Pelaksanaan Kurikulum SMK.. Jakarta: Dikmenju Depdiknas.
Denzin, N.K & Lincoln, Y.S.1994. Handbook of Qualitative Research. London : Sage Publication.
Dessler, G. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Alih bahasa Benyamin Molan Jakarta : Prenallindo
Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan. (2003) Pedoman Pelaksanaan Kurikulum. Draft Dokumen Kurkulum SMK Edisi 2004. Jakarta : Tidak diterbitkan
Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan. (2004) Penilaian dan pelaporan Hasil Belajar Peserta Diklat Sekolah Menengah Kjuruan. Suplemen Bahan Sosialisasi Kurikulum SMK Edisi 2004. Jakarta : Tidak diterbitkan
Djohar, As’ari (2002) Pengembangan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah Menegah Kejuruan (Studi Pada Serkolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Teknik Mesin Perkakas). Disertasi Doktor pada Program Pascasarjana UPI Baandung : Tidak diterbitkan
Gatot Hari P. 2001. Pedoman Penilaian Kurikulum SMK Edisi 1999
Greadler. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Guba, E.G & Lincoln, Y.S 1994." Competing Paradigma in Qualitative Research". In Denzin N.K. and Lincoln Y.S. (eds). (1994). Handbok of Qualitative Research (pp. 105-117). New Delhi: Sage Publications.
Hamalik, Oe, (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Komar,O (2007) Filsafat Ilmu Dan Pendidikan Bandung SPS UPI
Mc. Ashan, H.H. (1979) Competency-Based Education and Behavioral Objectives, New Jersey : Education Tecnologi apublication Inc. Englewood Cliffs
Moleong, lexy J. (2000) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, E. (2000). Kurikulum Berbasis Kompetensi : Konsep, Karakteristi, dan Implementasi, Bandung : Remaja Rosda Karya.
..................... (2004) Implementasi Kurikulum 2004 : Panduan Pembelajaran KBK. Bandung Rosda Karya
Nurhadi. (2004) Kurikulum 2004 : Pertanyaan dan jawaban. Jakarta Grasindo
Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. (2002).Kurikulum Berbasis Kompetensi : Jakarta Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas
Syaodih, N.S. (2001). Pengembangan Kurikulum : Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosda Karya.
....................... (2004). Kurikulum dan Pembelajaran . Bandung : Yayasan Kesuma Karya
Prof. Dr. Djam’an Satori, M.A. Dr. Aan Komariah, M.Pd, Metodologi penelitian kualitatif
Moh. Nazir, Ph.D Metode Penelitian
Langganan:
Komentar (Atom)
