Rabu, 08 Desember 2010

Anda Mampu!



Pengetahuan kita tentang otak manusia dalam lima belas tahun terakhir mestinya sudah merevolusi pendidikan dan pelatihan. Akan tetapi, ternyata belum!. Oleh karena itulah, buku ini dapat memberikan sumbangan besar bagi Anda sekeluarga.Otak manusia adalah sebuah alat yang sangat canggih dan hebat—tetapi tidak disertai buku panduan penggunaaan. Rasanya seperti memiliki komputer-super, tetapi tanpa ada program lengkap untuk membuatnya bekerja secara benar.

Tiga Otak dalam Satu Kepala
Kita sebenarnya memiliki tiga otak. Setiap otak dikembangkan oleh otak lain.Di dasar tengkorak terdapat otak yang agak primitif. Otak ini membuat kita bernapas dan jantung berdegup. Ia menyuruh kita untuk melawan atau lari saat teracam bahaya. Ia juga mengendalikan sebagian naluri yang primitif, seperti rasa kepemilikan wilayah kekuasaan. Jadi, kita merasa marah atau tak nyaman jika ada orang yang memasuki wilayah kita. Bagian berikutnya adalah otak tengah atau sistim limbik, semacam otak yang juga dimiliki hewan mamalia. Otak tengah mengendalikan sistim hormon, kesehatan (sistim kekebalan), seksualitas, emosi dan merupakan bagian penting ingatan jangka panjang. Fakta bahwa emosi dan ingatan jangka panjang sama-sama dikendalikan dari otak tengah ini menjelaskan mengapa kita dapat mengingat dengan jelas sesuatu yang melibatkan emosi. Anda mungkin mengingat tempat ketika mendengar kabar wafatnya seseorang yang penting bagi Anda. Ini juga berarti bahwa kenikmatan dan kesenangan adalah unsur-unsur penting dalam pembelajaran karena melibatkan emosi positif. Kepalkan tangan Anda. Sekarang, tangkupkan tangan yang lain pada kepalan itu. Pergelangan tangan Anda mewakili otak primitif, kepalan mewakili otak tengah, tangan yang menangkupnya mewakili otak baru atau neo-korteks. Otak ketiga ini benar-benar luar biasa. Ia mewakili semua kapasitas yang akan Anda perlukan untuk belajar dan mengingat apa pun yang Anda mau. Asalkan Anda tahu caranya!

Membangun Otak Sendiri
Kapasitas otak yang mengagumkan, baru belakangan ini saja disadari. Manusia memiliki sekitar seratus miliar sel otak. Angka yang hampir mustahil dibayangkan. Ini sama dengan dua puluh kali lipat seluruh penduduk dunia. Sel otak itu mirip dengan gurita mini. Selnya terletak di tengah dan memiliki cabang-cabang berupa benang-benang kecil. Setiap kali sesuatu (misalnya gambar, suara atau sentuhan) mencapai salah satu indra, sel otak menciptakan pikiran atau kesan yang keluar dari sel otak dan menyusuri salah satu benang yang mirip cabang itu. (Benang ini disebut “dendrit”’ dari kata Yunani yang berarti cabang). Kemudian, pikiran ini menyeberang ke sel otak yang lain, melalui “cabangnya”. Proses ini berlanjut dengan melibatkan ribuan bahkan jutaan sel otak yang terhubung berurutan. Reaksi berantai yang terjadi dalam sepersekian detik ini dihantarkan oleh aktivitas listrik. Setiap kali reaksi berantai ini terjadi, koneksi baru terbentuk diantara sel-sel otak. Sebagian koneksi ini menjadi permanen jika terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya kita dapat mengingat begitu banyak hal tanpa perlu mengerahkan upaya secara sadar, misalnya mengendarai sepeda. Disinilah pentingnya. Buka jumlah sel otak yang menentukan seberapa cerdas Anda, melainkan jumlah koneksi antara sel-sel otak. Para ilmuwan ota selama sepuluh hingga lima belas tahun terakhir menyimpulkan bahwa kecerdasan tidaklah tetap. Ini karena semakin banyak kita menggunakan otak, semakin banyak pula koneksi antara sel-sel otak yang kita buat. Semakin banyak koneksi diantara sel-sel otak, semakin besar pula potensi kita untuk berpikir secara cerdas.
Jadi, kita mengembangkan otka jika menggunakannya. Andalah arsitek otak Anda sendiri. Anda dapat mengembangkan kecerdasan dengan merangsang pikiran.

Usia Lanjut Bukanlah Hambatan
Kecuali jika cedera atau pernah menderita penyakit parah, kita tidak kehilangan kapasitas otak seraya usia bertambah, asalkan terus belajar dan mencari pengalaman baru—melalui hobi, membaca, bekerja, berolahraga, seni, musik dan lain-lain.

Lebih Lanjut tentang Otak yang Berpikir
Bayangkan Anda sedang memandang dari atas ke ubun-ubun dan dapat melihat menembus tengkorak ke otak berpikir di dalamnya. Anda akan melihat puncak otak yang berpikir (atau neo-korteks) ini terdiri atas dua belahan yang berbeda. Kedua belahan ini dihubungkan dengan segumpal saraf yang kaya, yang disebut Korpus Kalosum. Sebuah penemuan menunjukkan bahwa setiap belahan otek cenderung memiliki gaya pemrosesan informasi sendiri untuk belajar. Kita tidak boleh membesar-besarkan perbedaan antara otak kiri dan kanan karena otak kita jauh lebih rumit, tak bisa dikategorikan dengan rapi. Meskipun demikian, ada kesimpulan penting dari penelitian ini. Sebagian orang lebih suka pembangunan informasi langkah demi langkah yang lambat. Orang-orang ini disebut jenis pembelajar “linier”. Sebagian orang lebih suka—malah perlu—melihat “gambaran keseluruhan” atau tinjauan awal suatu topik, supaya mereka dapat elihat arah yang disasar. (Pasti sulit mengerjakan puzzle tanpa melihat gambar utuhnya!) Orang-orang ini disebut jenis pembelajar “global”. Ketika kita mendengarkan lagu, pada dasarnya otak kiri memerhatikan liriknya sementara otak kanan memperhatikan melodinya. Selain itu, pusat emosional otak atau sistim limbik juga akan terlibat. Dengan kata lain, seluruh otak terlibat secara aktif. Sekarang, pikiran betapa mudahnya menghafal lirik lagu. Anda mungkin mengenal puluhan, bahkan ratusan lagu—dan biasanya tidak berupaya keras untuk menghafalnya. Cara yang paling sederhana untuk menjelaskan perbedaan antara berpikir “linier” dan “global” barangkali adalah dengan membayangkan bertemu dengan oang yang kita kenal. Pendekatan yang sepenuhnya “linier” adalah dengan mengamati rambut, kening, lalu alis, mata hidung, mulut dan dagu orang itu. Inilah pembangunan informasi yang berurut, langkah demi langkah, logis dan lambat. Tentu saja kita tidak begitu. Kita hanya melirik orang tersebut dan otak kanan kita langsung saja berpikir global yang berarti kita melihat polanya. Hasilnya, kita mengenali orang itu. Sebagian besar bahan pendidikan tradisional terlalu bersandar pada presentasi linier, yakni pembangunan informasi yang terperinci dan lambat. Pembelajar global akan menjadi frustasi. Mereka tak dapat melihat arah yang dituju. Jadi, mereka menjadi bosan dan tidak mendengarkan pelajaran.
Sebagian besar pengalaman belajar kita cenderung berdasarkan pada jenis pengajaran yang disukai pembelajar linier. Jadi, bagi orang yang menyukai berpikir intuitif, sekolah jarang membuat mereka mencapai potensi mereka sepenuhnya. Akan tetapi, orang yang lebih bersandar pada jenis berpikir linier juga rugi—mereka tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan lebih banyak gaya berpikir kreatif.

Perubahan dari Berpikir Linier ke Global
Apakah Anda mandek dengan hal baru yang sedang dipelajari? Tak mampu mengingatnya? Tak bisa mempertahankan minat dan konsentrasi selagi membaca? Lihatlah cara Anda mendekatinya. Dapatkah Anda menentukan. Apakah pendekatan itu linier atau global? Misalnya, jika sedang bersusah payah membaca buku ajar sambil mencatat—cobalah hal lain yang berbeda secara radikal. Cobalah menggunakan gambar visual—ambil beberapa spidol dan buatlah poster yang mewakili apa yang sedang Anda coba pelajari. Anda akan berubah dari pendekatan linier ke mode pembelajaran yang lebih menggunakan seluruh-otak.

Emosi dan Belajar
Informasi yang memasuki otak akan menuju otak tengah. Otak tengah berfungsi sebagai semacam pusat pengarah. Jika memutuskan informasi penting, ia mengalihkan informasi tersebut ke “otak berpikir”. Sekarang ingatlah bahwa otak tengah ini tak hanya sebuah “pusat pengarah”, tetapi juga bagian otak yang mengendalikan emosi. Jadi, jika informasi baru disampaikan dalam cara yang menyenangkan emosi secara positif, Anda dapat belajar dan mengingat dengan baik. Jika hal yang kita pelajari memasukkan unsur warna, ilustrasi, permainan dan iringan lagu, emosi terlibat secara positif sehingga kita belajar lebih baik. Guru seperti apa yang Anda ingat dari masa sekolah dahulu? Kemungkinan besar guru-guru yang antusias. Antusiasme itu memikat secara emosional. Namun, ketika rasa takut atau emosi negatif hadir, otak tengah mungkin meredam informasi yang datang. Jika Anda sedang stres, informasi mungkin tak akan pernah mencapai otak berpikir Anda. Informasi itu malah tersaring. Itulah yang terjadi saat otak kita tiba-tiba kosong. Otak menurunkan taraf berpikir ke yang lebih primitif. Namun, stres tidak hanya berupa kecemasan dan kekhawatiran yang Anda sadari. Seringnya, orang yang pernah memilki pengalaman belajar yang buruk secara tak sadar merasa terancam oleh pengalaman belajar yang baru. Ini menjadi lingkaran setan. Karena merasa tak mampu belajar, mereka merasa terancam. Dan karena merasa terancam, neo-korteks mereka menerima lebih sedikit informasi sehingga mereka belajar secara tidak efektif! Jika Anda merasa tak aman, potensi otak yang tersedia menjadi lebih sedikit. Oleh karena itulah, saat merasa cemas, mungkin tiba-tiba Anda menyadari bahwa telah lama menatap satu halaman tanpa memahami apa pun. Jadi, keadaan pikiran itu sangat penting dalam belajar.


Delapan Kecerdasan untuk Digunakan
Hampir semua orang memiliki kapasitas otak untuk menjadi pembelajar yang efisien. Kita sudah punya seratus miliar sel otak—jika masih ingin lebih banyak lagi, itu namanya serakah! Namun, bagaimana sebenarnya kita menggunakan otak untuk belajar? Mengapa sebagian besar dari kita hanya menggunakan sepersekian dari potensinya? Dan apa itu kecerdasan? Karya Dr. Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Universitas Harvard, menunjukkan fakta bahwa kita tidak hanya memiliki “satu” kecerdasan—tetapi setidaknya tujuh, mungkin delapan. Mungkin lebih banyak lagi. Setiap kecerdasan sama pentingnya dalam mencapai potensi kita sepenuhnya. Mari kita lihat kedelapan kecerdasan tersebut. Kita dapat mengenalinya sebagai bakat alamiah, yang dimiliki oleh setiap orang, banyak atau sedikit.

1. Kecerdasan Linguistik—atau bakat berbahasa
Kemampuan menulis atau berbicara secara fasih. Sebagian orang agaknya memang dianugerahi bakat bahasa—mereka bisa menulis dan membaca dengan baik. Mereka memiliki kecerdasan linguistik yang baik.

2. Kecerdasan Matematis/Logis—atau bakat dengan matematika, logika dan sistim
Kemampuan menangani angka dengan baik dan berpikir logis. Anda mungkin mengenal orang-orang yang mungkin tidak menganggap dirinya “cerdas”’ tetapi tajam sekali dalam menghitung peluang dalam suatu taruhan atau menghitung statistik untuk sepak bola atau basket!
Insinyur, ilmuwan dan akuntan biasanya menunjukkan kecerdasan ini.

3. Kecerdasan Visual/Spasial—atau bakat visual
Kemampuan memvisualisasi rupa-akhir sesuatu. Membayangkan sesuatu dalam mata pikiran.
Desainer, arsitek dan seniman adalah contohnya, tetapi Anda juga menggunakan saat menentukan arah, navigasi atau menggambar dengan baik.

4. Kecerdasan Musikal—atau bakat musik
Kemampuan menciptakan dan menafsirkan musik. Menjaga irama. Sebagian besar dari kita memiliki kecerdasan musikal dasar yang baik dan kita semua dapat mengembangkannya. Pikiran betapa membantunya belajar dengan menggunakan sajak atau lagak (misalnya lagu alfabet).

5. Kecrdasan Fisik
Anda menggunakan kecerdasan ini ketika mampu melakukan gerakan-gerakan yang bagus, belari, menari, membangun sesuatu. Semua seni dan hasta karya menggunakan kecerdasan ini.
Banyak orang yang berbakat secara fisik dan “terampil menggunakan tangan” tidak menyadari bahwa mereka menunjukkan bentuk kecerdasan yang tinggi. Kecerdasan yang sama nilainya dengan kecerdasan yang lain.

6. Kecerdasan Inter-Personal—atau bakat sosial
Kemampuan berkomunikasi dengan baik dan mudah bergaul. Banyak orang memiliki kemampuan hebat membuat orang lain nyaman, membaca reaksi orang dan bersimpati pada perasaan orang lain.
Ini adalah kecerdasan manusia yang penting. Bakat ini digunakan sepenuhnya ketika kita menjadi orangtua yang baik, politikus, pemimpin, kolega yang mendukung atau guru yang baik.

7. Kecerdasan Intra-Personal—atau kendali batin
Kemampuan untuk melakukan analisis diri dengan tenang dan objektif. Ini menyebabkan Anda mampu memahami perasaan dan perilaku sendiri.
Kecerdasan ini digunakan untuk menciptakan rencana dan tujuan pribadi dan untuk mempelajari kesuksesan dan kegagalan kita sebagai panduan untuk perbaikan pada masa mendatang.

8. Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenali unsur-unsur dunia alami, hidup selaras dengan alam dan menggunakannya secara produktif. Petani, para ahli di bidang botani, biologi dan lingkungan hidup menampilkan kecerdasan ini.

Daftar delapan kecerdasan atau bakat ini perlu Anda baca dan pelajari sekali lagi selama beberapa menit. Sadarilah bahwa semua bakat/kecerdasan itu bernilai sama.
Cara baru memandang kemampuan manusia ini telah menyebabkan Dr. Howard Gardner mengajukan definisi baru tentang “kecerdasan”. Menurut dia, kecerdasan adalah “kemampuan menciptakan produk bermanfaat dan menyelesaikan masalah sehari-hari”.Sebelumnya, kecerdasan didenifinisikan secara lebih sempit. Kecerdasan diukur dengan tes IQ yang berkonsentrasi ke kecerdasan linguistik dan matematis/logis. Jadi, tes ini cukup baik dalam meramalkan prestasi sekolah karena mata pelajaran di sekolah sebagian besar diajarkan melalui kecerdasan linguistik dan matematis/logis. Keberhasilan di sekolah memang salah satu cara untuk menunjukkan kecerdasan. Namun, di dunia nyata, ini sama sekali bukan satu-satunya cara. Lagi pula, jika pengajaran atau pelatihan melibatkan rentang kecerdasan yang lebih luas, kita membuka kesempatan lebih luas lagi bagi lebih banyak orang. Seperti kata Howard Gardner, “pembelajaran kecerdasan ganda = pendidikan berpeluang ganda”.

Kesimpulan
Kapasitas dasar otak manusia itu tak terbatas, bisa digunakan untuk segala maksud dan tujuan. Namun, kebanyakan orang hanya menggunakan sepersekian potensi sejatinya, setidaknya karea tiga alasan:
1. Mereka tak percaya diri
2. Mereka tidak memiliki pendekatan belajar yang tersusun baik
3. Mereka tidak mengetahui cara menggunakan gaya belajar dan rentang kecerdasan yang sesuai dengan dirinya

Pembelajar Aktif
Saat Anda membaca bagian selanjutnya, sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri tiga hal ini:
• Dapatkah saya menggunakan hal ini untuk memperbaiki cara belajar?
• Bagaimana bisa menggunakan hal ini untuk memperbaiki cara saya mengajar, melatih atau berkomunikasi dengan orang lain?
Jika orang memiliki gaya belajar yang begitu berbeda-beda, bagaimana saya bisa menyesuaikan diri dengan gaya-gaya belajar itu supaya bisa mencapai audiens seluas dan seefektif mungkin?
• Apa signifikansi hal ini bagi anak-anak dan keluarga saya? Jika Anda belum memliki anak, coba pertimbangkan untuk anak Anda nanti.



Diambil dari buku Kuasai Lebih Cepat: Buku Pintar Accelerated Learning, karangan Colin Rose (hal 18-27)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar